Bahasa Lampung di Bandara Radin Inten II: Lebih dari Sekadar Pengumuman Rutin

Bahasa Lampung di Bandara Radin Inten II Lebih dari Sekadar Pengumuman Rutin
Ruang tunggu Bandara Radin Inten II. (Foto: Yopie Pangkey)

Kalau Anda berkunjung ke Bandara Internasional Radin Inten II belakangan ini, pasti mendengar ada yang berbeda. Di tengah rentetan pengumuman keberangkatan penerbangan, tiba-tiba terdengar sapaan dalam bahasa Lampung.

Buat sebagian orang mungkin biasa saja, tapi langkah PT Angkasa Pura II ini sebenarnya punya makna lebih dalam.

Read More

Kenapa Bahasa Daerah di Bandara Itu Penting?

Bandara itu tempatnya orang datang dan pergi. Suasananya cenderung formal, bahkan terasa impersonal.

Nah, ketika bahasa Lampung tiba-tiba menyapa telinga penumpang, ada semacam kehangatan yang muncul. Rasanya seperti dibilangin, “Selamat datang di rumah.”

Ini bukan cuma soal romantisme budaya. Penelitian tentang “Linguistic Landscape” atau lanskap bahasa sudah lama membuktikan bahwa penggunaan bahasa di ruang publik itu cerminan status bahasa tersebut di masyarakat.

Kalau bahasa daerah muncul di tempat strategis macam bandara, artinya bahasa itu masih dianggap penting, masih “hidup.”

Bandara Radin Inten II membuktikan satu hal: identitas lokal dan modernitas bisa jalan bareng. Kita nggak harus pilih antara jadi daerah yang “maju” atau daerah yang “menjaga budaya.” Keduanya bisa, kok.

Ancaman Kepunahan yang Nyata

Sayangnya, kondisi bahasa daerah di Indonesia memang mengkhawatirkan. Data UNESCO mencatat banyak bahasa daerah yang terancam punah karena generasi muda sudah jarang menggunakannya.

Bahasa Lampung sendiri masih bertahan, tapi tetap butuh upaya pelestarian yang serius.

Kementerian Kebudayaan sering mengingatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat bicara. Bahasa itu tempat menyimpan memori kolektif, nilai-nilai leluhur, dan cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia.

Ketika satu bahasa mati, yang hilang bukan cuma kosakata tapi seluruh sistem pengetahuan.

Dengan memperdengarkan bahasa Lampung kepada ribuan penumpang setiap hari, Angkasa Pura II sebenarnya sedang melakukan kampanye budaya tanpa terasa menggurui.

Buat orang Lampung sendiri, ini bisa jadi momen kebanggaan. Buat orang luar, ini kesempatan kenalan sama budaya lokal.

Baca juga:
* Membuka Pintu Dunia: Saat Pemerintah Memperbanyak Bandara Internasional

Masih Ada PR

Tentu saja, pengumuman audio baru langkah awal.

Idealnya, bahasa Lampung juga hadir dalam bentuk visual di papan informasi, penunjuk arah, atau layar digital. Konsistensi itu yang akan membuat upaya pelestarian ini benar-benar terasa dampaknya.

Yang jelas, apresiasi layak diberikan kepada manajemen Bandara Radin Inten II yang berani mengambil langkah ini.

Di era globalisasi yang sering dituduh membuat segalanya seragam, kehadiran bahasa Lampung di bandara justru membuktikan: kita bisa modern tanpa kehilangan akar.

*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan

#BahasaLampung #BandaraRadinIntenII #PelestarianBudaya #AngkasaPuraII

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *