Perekonomian Lampung memasuki tahun 2026 dengan penuh harapan. Pemerintah daerah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2% hingga 5,7% tahun depan.
Angka ini didukung oleh Bank Indonesia Perwakilan Lampung yang memperkirakan pertumbuhan serupa, antara 4,9% hingga 5,7%.
Proyeksi ini bukan sekadar wacana. Fondasi kuat sudah terbangun sepanjang 2025, dengan ekonomi triwulan III mencatat pertumbuhan solid di angka 5,04%.
Namun, pertumbuhan tinggi saja tidak cukup. Tantangan pemerataan dan hilirisasi produk pertanian masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Tiga Pilar Ekonomi Lampung
Pertumbuhan ekonomi Lampung 2026 akan ditopang oleh tiga sektor utama:
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
Sektor ini tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi mencapai 38,89% pada triwulan III-2025.
Komoditas unggulan seperti jagung, singkong, kelapa sawit, dan kopi robusta masih menjadi andalan.
Program hilirisasi dan pengembangan industri makanan-minuman berbasis agro akan menjadi kunci menciptakan nilai tambah.
Industri Pengolahan
Dengan kontribusi 17,66% terhadap struktur ekonomi, sektor ini menjadi mitra strategis pertanian.
Penguatan industri pengolahan hasil pertanian lokal sangat vital untuk menghentikan kebocoran modal keluar daerah dan menjaga nilai tambah tetap di Lampung.
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Pemerintah memprioritaskan pengembangan pariwisata hijau dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Destinasi seperti Pantai Pahawang dan Kiluan, ditambah warisan budaya Saibatin dan Pepadun, akan didorong sebagai daya tarik investasi berkelanjutan.
Baca juga:
* Eksportir sebagai Pilar Ekonomi Lampung dan Peran Strategis Kepemimpinan Muda
Tiga Kota Penggerak Pertumbuhan
Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia dan kontribusi ekonomi, tiga wilayah ini menjadi lokomotif pertumbuhan Lampung:
Kota Bandar Lampung
Sebagai ibu kota provinsi dengan IPM tertinggi (79,86), Bandar Lampung menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, dan pendidikan. Kota ini menjadi magnet utama investasi dan pusat distribusi utama.
Kabupaten Lampung Tengah
Jantung agribisnis Lampung dengan IPM 73,39 ini memiliki aktivitas ekonomi sangat tinggi.
Keberadaan kawasan industri dan perdagangan seperti Bandar Jaya memperkuat perannya sebagai penggerak sektor riil berbasis sumber daya alam.
Kota Metro
Dengan IPM 79,85 yang hampir menyamai Bandar Lampung, kota kecil ini membuktikan bahwa ukuran bukan segalanya.
Identitasnya sebagai kota pendidikan dengan layanan publik berkualitas menjadi fondasi pertumbuhan yang kokoh.
Baca juga:
* Loncatan “Sang Gerbang”: Membaca Ulang Ekonomi Lampung 2025
Peluang dan Tantangan ke Depan
Optimisme menuju 2026 didukung fakta kuat. Lampung masuk kategori “Fiskal Kuat” versi Kemendagri.
Pembangunan infrastruktur jalan dengan tingkat kemantapan 79,79% diharapkan memperlancar konektivitas dan distribusi.
Tapi tantangan masih menghadang. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menyoroti masalah serius: nilai komoditas mencapai Rp140 triliun per tahun keluar daerah dalam bentuk bahan mentah.
Di sisi sosial, meski angka kemiskinan berhasil ditekan ke 10%, banyak rumah tangga masih rentan jatuh miskin kembali saat terjadi guncangan ekonomi.
Karena itu, keberhasilan ekonomi Lampung 2026 tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan semata.
Yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan itu berubah menjadi kemakmuran nyata dan merata dari kota sampai desa.
Hilirisasi pertanian, penguatan UMKM, dan pembangunan infrastruktur tepat sasaran adalah kunci memastikan Lampung tidak hanya tumbuh, tetapi juga tangguh dan mandiri.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#EkonomiLampung2026 #PertumbuhanEkonomiIndonesia #PembangunanDaerahLampung



