Industri agroindustri nasional baru saja mengalami guncangan. Akuisisi PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) oleh First Resources Limited berujung pada keputusan mengejutkan: penghentian total lini bisnis edamame dan sagu.
Alasannya sederhana efisiensi dan fokus penuh ke sawit sebagai core business. Bagi pelaku pasar, ini bukan sekadar restrukturisasi biasa. Ini perubahan konstelasi.
Apa yang Terjadi Ketika Pemain Besar Mundur?
Penutupan lini edamame ANJT (melalui anak usahanya PT Gading Mas Indonesian Food) menciptakan kekosongan di pasar sayuran beku ekspor.
Dalam logika bisnis, ketika satu pemain besar keluar, yang tersisa bukan otomatis menang tapi mereka punya kesempatan langka untuk mengambil alih.
Pertanyaannya sekarang: apakah Mitratani Dua Tujuh kini menjadi satu-satunya produsen edamame berkualitas ekspor di Indonesia?
Kalau bicara skala industri yang terintegrasi penuh, jawabannya ya.
Memang masih ada UKM dan eksportir kecil di Jawa Tengah dan Jawa Barat, tapi mereka belum bisa menyaingi Mitratani dalam hal volume dan standar kualitas terutama untuk pasar Jepang yang terkenal sangat ketat.
Yang Harus Dilakukan Pemegang Saham
Situasi ini menuntut PTPN 1 dan PT Kelola Mina Laut (KML) untuk bertindak cepat.
Ini bukan waktu untuk berpuas diri. PTPN 1 harus memastikan ketersediaan lahan produktif tetap terjaga, sementara KML perlu memaksimalkan jaringan logistik beku global mereka yang sudah terbangun.
Keunggulan Mitratani sebenarnya ada di sini sinergi dua pemegang saham dengan kapabilitas berbeda yang saling melengkapi. Kompetitor lain tidak punya kombinasi ini.
Rekomendasi untuk Direksi
Sebagai mantan Komisaris yang mengikuti perkembangan perusahaan hingga akhir 2025, saya punya beberapa catatan untuk Direksi:
Pertama, jangan sampai kehilangan momentum. Klien-klien yang ditinggalkan ANJT harus segera didekati. Mitratani harus menjadi nama pertama yang muncul ketika mereka mencari pemasok pengganti.
Kedua, tingkatkan produktivitas lewat digitalisasi pertanian. Tanpa pesaing setara, ini waktu yang tepat untuk Mitratani menetapkan standar harga bukan lagi mengikuti pasar.
Ketiga, jangan cuma jualan edamame beku. Saatnya serius mengembangkan produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi, terutama untuk pasar retail domestik yang sedang berkembang pesat.
Peluang Emas yang Tidak Boleh Disia-siakan
Mundurnya ANJT membuka jalan lebar bagi Mitratani untuk mendominasi pasar global. Tapi dominasi tanpa inovasi itu berbahaya bisa jadi justru membuat kita lengah.
Direksi dan pemegang saham harus memastikan Mitratani bukan hanya pemain tunggal di lapangan, tapi pemain terbaik yang terus membuktikan kelasnya di panggung internasional.
*Penulis: Mahendra Utama, Komisaris PT Mitratani Dua Tujuh Periode Juli 2023 – Desember 2025
#PTMitrataniDuaTujuh #MitrataniDuaTujuh #Edamame #Jember



