Oleh Redaksi Publikasi Lampung
Bayangkan sebuah dunia di mana hampir tidak ada negara yang benar-benar bisa memberi makan rakyatnya sendiri.
Bukan karena malas bertani, bukan pula karena kekurangan lahan. Tetapi karena sistem global memang tidak dirancang untuk itu.
Dari 186 negara di dunia, hanya satu yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan pangannya secara mandiri: Guyana.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food ini kerap dibaca sebagai fakta unik. Media seperti detikcom dan Kompas menyajikannya sebagai informasi penting.
Namun persoalannya bukan pada siapa yang mandiri, melainkan pada kenyataan bahwa hampir semua negara tidak mandiri.
Dan di situlah letak kerentanannya.
Ketergantungan yang Dirancang
Sistem pangan global hari ini dibangun di atas logika efisiensi.
Negara memproduksi apa yang paling murah dan paling cocok dengan kondisi alamnya, lalu menukar kekurangan dengan impor.
Gandum dari wilayah subtropis, kedelai dari Amerika, beras dari Asia. Semuanya mengalir dalam jaringan yang saling terhubung.
Dalam sistem seperti ini, ketergantungan bukanlah kelemahan. Ketergantungan adalah mekanisme.
Namun mekanisme ini bekerja optimal hanya dalam satu kondisi: stabilitas global.
Ketika stabilitas itu retak, ketergantungan berubah menjadi kerentanan.
Krisis yang Tidak Terlihat dari Ladang
Beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ancaman terhadap pangan justru datang dari luar sektor pertanian.
Perang antara Rusia dan Ukraina, misalnya, tidak hanya menghentikan aliran gandum dari kawasan Laut Hitam, tetapi juga mengguncang harga pangan dunia.
Pandemi COVID-19 memperlihatkan bagaimana pembatasan ekspor dan gangguan logistik dapat memicu kepanikan lintas negara.
Sementara fenomena iklim seperti El NiƱo menggerus produksi di banyak wilayah secara bersamaan.
Kini, eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memperlihatkan dimensi yang lebih dalam.
Jika konflik sebelumnya langsung menyasar komoditas pangan, dinamika di Timur Tengah justru menekan titik yang lebih mendasar: energi dan pupuk.
Jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi nadi distribusi energi global, berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Ketika harga energi naik, biaya distribusi melonjak. Ketika pupuk terganggu, hasil panen ikut tertekan.
Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi merambat perlahan. Hingga akhirnya muncul di harga yang dibayar konsumen.
Krisis pangan modern, dengan demikian, tidak selalu dimulai dari sawah yang gagal panen. Krisis pangan sering kali lahir dari sistem yang terganggu jauh dari ladang.
Baca juga:
* Di Era Digital, Mengapa Tanah Justru Jadi Aset Paling Berharga?
Swasembada dan Batas Realitas
Dalam situasi seperti ini, swasembada sering diposisikan sebagai jawaban.
Namun fakta global menunjukkan bahwa kemandirian penuh hampir mustahil dicapai. Bahkan negara dengan sumber daya besar tetap bergantung pada perdagangan internasional untuk melengkapi kebutuhan tertentu.
Memaksakan swasembada berarti menghadapi pilihan sulit: biaya lebih tinggi, tekanan terhadap lingkungan, atau inefisiensi produksi.
Karena itu, ketahanan pangan bukan soal menutup diri dari pasar global, melainkan tentang bagaimana mengelola keterbukaan itu tanpa kehilangan kendali.
Mampu mengelola ketergantungan: menentukan dari mana impor berasal, bagaimana cadangan disiapkan, dan seberapa lentur sistem menghadapi gangguan.
Indonesia: Aman di Permukaan, Rentan di Struktur
Indonesia berada dalam posisi yang tampak stabil, tetapi menyimpan kerentanan struktural.
Produksi beras relatif terjaga. Namun di saat yang sama, ketergantungan terhadap impor masih tinggi untuk komoditas strategis seperti kedelai dan gandum.
Produk susu dan daging tertentu juga masih bergantung pada pasokan luar.
Artinya, stabilitas pangan nasional tidak sepenuhnya ditentukan oleh kondisi dalam negeri.
Stabilitas pangan nasional juga bergantung pada:
- kelancaran perdagangan global
- stabilitas geopolitik
- dan ketersediaan energi serta input produksi
Dalam konteks ini, gangguan global sekecil apa pun dapat berdampak berantai.
Lampung dan Cermin Ketahanan Lokal
Di tingkat daerah, dinamika ini terlihat lebih konkret.
Lampung, sebagai salah satu lumbung pangan nasional, memiliki peran penting dalam menjaga pasokan komoditas seperti beras dan jagung.
Namun di sisi lain, petani tetap bergantung pada faktor eksternal. Mulai dari harga pupuk hingga distribusi hasil panen.
Ketika harga pupuk naik atau distribusi terganggu, tekanan langsung terasa di tingkat produksi. Ketahanan lokal pun tidak sepenuhnya berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan sistem yang lebih besar.
Dengan kata lain, kekuatan lokal tetap berada dalam bayang-bayang sistem global.
Ketahanan yang Sesungguhnya
Temuan bahwa hanya satu negara yang mandiri pangan seharusnya dibaca sebagai pengingat: dunia tidak dirancang untuk berdiri sendiri.
Ketahanan pangan bukan tentang menghapus ketergantungan, melainkan tentang memastikan bahwa ketergantungan itu tidak berubah menjadi kerentanan yang fatal.
Negara yang kuat bukanlah yang memproduksi segalanya sendiri, melainkan yang mampu bertahan ketika sistem global terguncang.
Baca juga:
* Miliarder Dunia Memburu Lahan Pertanian: Apakah Ini Tanda Krisis Pangan Global?
Catatan Akhir
Dunia tidak kekurangan pangan.
Yang semakin sulit adalah memastikan bahwa pangan itu tetap tersedia ketika sistem yang menopangnya mulai goyah.
Dan di tengah dunia yang saling bergantung, krisis tidak lagi datang sebagai kejutan. Melainkan sebagai konsekuensi yang menunggu waktu.



