Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong hilirisasi kakao Pesawaran agar nilai tambahnya dinikmati petani dan produknya menembus pasar global.
Kabupaten Pesawaran menghasilkan sekitar 21.000 ton kakao per tahun, menurut Bupati Nanda Indira, dan disebut gubernur sebagai yang nomor satu di Lampung.
Dorongan itu disampaikan Gubernur Mirza saat menjadi keynote speaker pada Talkshow Investasi Berdampak dan Rantai Pasok Hijau Komoditas Pertanian-Perkebunan Kabupaten Pesawaran di Business Hub 2 Hall 3, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Banten, Kamis (15/10/2026), menurut siaran pers Pemprov Lampung.
Kakao Pesawaran Disebut Nomor Satu di Lampung
Nanda Indira memaparkan bahwa Pesawaran terdiri atas 11 kecamatan dengan penduduk lebih dari 500 ribu jiwa. Produk domestik regional bruto (PDRB) daerah itu pada 2025 mencapai kurang lebih Rp4,5 triliun.
Pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan menjadi kontributor terbesar, sedangkan perdagangan dan industri pengolahan dinilai potensial untuk terus dikembangkan. Sentra kakao berada di Kecamatan Gedong Tataan, Way Ratai, dan Kedondong.
Gubernur Mirza menyebut Pesawaran memiliki potensi besar untuk kakao, pariwisata, dan kawasan industri berbasis komoditas unggulan.
“Kakao, khusus di kakao, ini nomor satu di Provinsi Lampung adalah di Pesawaran,” ungkap Gubernur Mirza.
Menurut Nanda, pengembangan kakao tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga kualitas bahan baku dan pengolahan modern agar produknya bersaing di pasar nasional dan internasional. Potensi itu membuka peluang investasi mulai dari perkebunan, pengolahan biji kakao, hingga produk olahan seperti cokelat.
“Kami ingin memperkuat hilirisasi arahan dari Bapak Gubernur agar produk lokal memiliki nilai tambah lebih tinggi ke depannya,” kata Nanda.
Komoditas Lampung Masih Banyak Keluar Mentah
Gubernur Mirza menyebut Lampung sudah ratusan tahun dikenal lewat tiga komoditas, yakni lada, kopi, dan kakao.
Menurut Mirza, keunggulan pelabuhan dan dermaga menjadikan Lampung asal ekspor kopi dan kakao terbesar, dan sejumlah daerah seperti Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi juga memakai akses perdagangan lewat pelabuhan di Lampung.
Namun, sebagian komoditas Lampung masih keluar dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonominya belum sepenuhnya dinikmati masyarakat dan petani.
“Permasalahannya di Provinsi Lampung ini selama ini banyak sekali komoditas-komoditas ini banyak keluar mentah, tidak terhilirisasi. Maka salah satu program kita bagaimana membuat processing-processing sebuah komoditas yang ada di Provinsi Lampung ini dilakukan di Provinsi Lampung,” kata Gubernur Mirza.
Pemprov Lampung mendorong industri pengolahan komoditas mulai dari tingkat desa, termasuk lewat dukungan permodalan, akses pasar, pengembangan industri, dan penguatan rantai pasok.
Program hilirisasi yang tengah dikembangkan meliputi National Cassava Center, pabrik pengolahan kopi robusta, ekosistem bioetanol, dan rencana hilirisasi kakao yang dimulai dari desa.
Baca juga:
* Kakao Agroforestri dan Masa Depan Ekonomi Hijau Lampung
Insentif Raperda dan Infrastruktur Disiapkan
Pemprov Lampung menyiapkan dukungan regulasi dan infrastruktur untuk iklim investasi di Pesawaran. Rancangan peraturan daerah (Raperda) tentang insentif dan kemudahan penanaman modal bagi industri berbasis komoditas unggulan ditargetkan berlaku tahun ini.
“Jadi Bapak Ibu sekalian, ketika membangun processing, industri processing terhadap komoditas yang ada di Provinsi Lampung, ini kita akan berikan insentif-insentif,” jelas Gubernur Mirza.
Dukungan infrastruktur mencakup jalan, listrik, dan sistem penyediaan air minum. Pesawaran juga ditetapkan sebagai salah satu kawasan strategis Provinsi Lampung dan masuk koridor pengembangan hub ekonomi kreatif, pariwisata, ketahanan pangan, serta industri berbasis ekonomi dan teknologi.
Gubernur Mirza menyebut realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) di Lampung mencapai sekitar Rp7,03 triliun, naik hampir 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, Lampung menawarkan keunggulan bagi investor, mulai dari sumber daya alam dan manusia, perizinan online, iklim investasi ramah, dukungan kebijakan, digitalisasi, hingga stabilitas sosial dan keamanan.
Petani Akan Dilatih Fermentasi, Lahan Dipetakan
Perwakilan Klumbayan Golden Farm menyampaikan bahwa perusahaan membina sekitar 1.000 petani di Kabupaten Tanggamus, Lampung Barat, dan Pesawaran, mulai dari pembibitan, pascapanen, hingga pemasaran dan ekspor.
Kopi robusta dikembangkan di Tanggamus dan Lampung Barat, sedangkan kakao fermentasi di Pesawaran. Robusta grade A binaan perusahaan itu telah diekspor ke Belanda.
Untuk kakao Pesawaran, perusahaan akan melatih petani memfermentasi biji sesuai standar kakao premium. Langkah itu diharapkan meningkatkan pendapatan petani.
“Selama ini mereka hanya menjual biji dalam kondisi asalan. Kita juga akan mengambil biji fermentasi yang nanti memiliki nilai yang lebih tinggi,” ujar perwakilan perusahaan tersebut.
Perusahaan juga mengembangkan sistem ketertelusuran (traceability) untuk kebutuhan pasar internasional, termasuk kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Baca juga:
* Melampaui EUDR: Mengapa Lampung Harus Tetap Berbenah Meski Tanpa “Perintah” Eropa?
Lewat aplikasi internal bernama TAPAK, perusahaan memetakan kebun petani, mendata pascapanen, mengumpulkan data georeferensi, dan memverifikasi bahwa produksi berasal dari lahan yang tidak terkait deforestasi.
Sistem ini diharapkan meningkatkan kesiapan komoditas Lampung terhadap standar pasar Eropa dan memperkuat transparansi rantai pasok.
Setelah komoditas distandardisasi, perusahaan menghubungkan petani langsung dengan pembeli lokal maupun internasional. Pola ini diharapkan memperpendek rantai perdagangan dan memberi nilai ekonomi lebih baik bagi petani.
Baca juga:
* Pesawaran Sentra Kakao Terbesar di Lampung, Revitalisasi Kebun Tua Jadi Kunci Produktivitas
Pemkab Tekankan Manfaat Luas dan Keberlanjutan
Nanda menyebut sumber daya alam yang berlimpah, dukungan pemerintah daerah, dan lokasi strategis sebagai modal utama menarik investasi ke Pesawaran.
Pemkab Pesawaran, katanya, berkomitmen mendorong kegiatan ekonomi yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
“Pengembangan kakao memberikan manfaat lebih luas, bukan hanya meningkatkan hasil panen. Melalui pengolahan modern kita dapat membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, pengembangan pariwisata, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama para petani kita,” ungkap Nanda.
Dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, dan petani, pengembangan kakao Pesawaran diharapkan tidak berhenti pada produksi bahan baku, tetapi menjadi ekosistem industri dari hulu hingga hilir.



