Hilirisasi produk perhutanan sosial di Kabupaten Pesawaran terus menunjukkan kemajuan signifikan. Fatoni, seorang petani pengelola kawasan hutan lindung di Kecamatan Kedondong, kini tidak hanya fokus mengolah lahan budidaya, tetapi juga mulai menguasai seni menyajikan kopi modern (barista) langsung dari rumahnya.
Transformasi tersebut ditandai dengan hadirnya fasilitas mesin espresso dari Pusat Penyuluhan (Pusluh) Kehutanan, BP2SDM Kementerian Kehutanan, yang diserahkan pada awal Agustus lalu.
Kehadiran sarana pengolahan modern ini menjadi pendorong utama hilirisasi kopi lokal bernilai tambah dengan merek AKARUPA.
Perkembangan kemandirian petani hutan ini juga menarik perhatian jajaran Direktorat Keanekaragaman Hayati dan Konservasi Sumber Daya Alam (KKSDA) Bappenas bersama UPTD KPH Pesawaran saat meninjau langsung aktivitas pengolahan kopi di lokasi tersebut pada Kamis (27/8/2026) lalu.
Konsistensi Sistem Agroforestri
Di kawasan hutan lindung pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), Fatoni secara konsisten menerapkan sistem agroforestri (wanatani). Pola tumpang sari ini memadukan tanaman kopi dan kakao dengan pepohonan bernilai ekonomi tinggi seperti kemiri, pala, cengkeh, hingga pisang.
Model budidaya terpadu ini tak sekadar menjaga benteng hijau Gunung Pesawaran dari risiko degradasi lahan, tetapi juga memberikan kepastian pendapatan berkelanjutan bagi petani tapak.
Hasil olahan dari pola agroforestri ini bahkan sebelumnya pernah dipresentasikan hingga ke hadapan Menteri Kehutanan di Manggala Wanabakti, Jakarta.
Prinsip budidaya mandiri tersebut turut diterapkan Fatoni di pekarangan rumahnya. Di lahan terbatas itu, ia membudidayakan beragam tanaman harian mulai dari kopi, kakao, pisang, melinjo (tangkil), jengkol, petai, hingga tanaman cabai.
Kolaborasi Akademisi dan Praktisi Lokal
Penguasaan teknik racik kopi modern oleh Fatoni tidak lepas dari pendampingan lintas sektor secara berkesinambungan.
Fatoni didampingi oleh Chaerul Saleh dari Gens Coffee Roastery dalam hal teknik pemakaian mesin espresso, takaran presisi, serta formulasi varian minuman.
Sementara dari sisi metodologi dan standar pemrosesan, Fatoni mendapat pengawalan dari Dr. Analianasari, dosen Pascasarjana Politeknik Negeri Lampung (Polinela).
Berkat pendampingan tersebut, Fatoni kini terampil menyajikan tiga varietas kopi sekaligus. Robusta, Arabika, dan Liberika.
Fatoni pun mulai terlihat terbiasa dengan teknik ekstraksi mesin espresso maupun metode penyeduhan manual (manual brew) seperti V60 dan kopi tubruk.
Rencana Pengembangan Eduwisata Kopi
Melengkapi penguatan di sektor hilir, Fatoni kini tengah menata gubuk pekarangannya agar lebih nyaman dan estetis bagi para pengunjung.
Langkah ini disiapkan untuk mendukung konsep eduwisata kopi perhutanan sosial, di mana pengunjung dapat menikmati racikan kopi langsung di area perkebunan.
Bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung dan mencicipi langsung hasil seduhan petani hutan Pesawaran ini, titik lokasinya sudah dapat diakses melalui Google Maps dengan kata kunci pencarian “Akarupa coffee”.
Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara bantuan pemerintah, pengawalan akademisi, dan kepedulian praktisi mampu mendorang petani hutan naik kelas. Petani hutan yang tadinya sekadar penghasil bahan baku menjadi pelaku industri kreatif yang berdaya di daerahnya sendiri.



