Kopi dan Cerita di Balik Secangkir AKARUPA: Ritual Ngopi yang Membangun Jiwa Lampung

Kopi dan Cerita di Balik Secangkir AKARUPA Ritual Ngopi yang Membangun Jiwa Lampung - Mahendra Utama
Secangkir kopi AKARUPA membuka percakapan tentang persaudaraan, potensi lokal, ekonomi petani, hingga pembangunan Lampung yang tumbuh dari ruang-ruang sederhana. (Foto arsip Mahendra Utama)

Oleh: Mahendra Utama | Pemerhati Pembangunan

Malam itu, 27 Agustus 2026, pukul 20.10 WIB, langkahku mengarah ke Toko Kopi Mineral Nusantara di Pasar Lebak Budi. Bukan sekadar ngopi, ini ritual bertemu sahabat. Iyai Sidiq asal Kedondong Pesawaran sudah menunggu.

Read More

Begitu pula Mas Yopie Pangkey, pria Kawanua yang kini menetap di Bandar Lampung, dan Mas Arief, TPP Gubernur Lampung yang merupakan alumni Universitas Gadjah Mada.

Ketika Kopi Menjadi Jembatan Persaudaraan

Saat aku memesan kopi Robusta Liwa, Mas Yopie mencolek lenganku.

“Ada oleh-oleh kopi dari Pesawaran untuk Mas Mahe,” katanya sambil mengeluarkan sebungkus kopi merek AKARUPA.

AKARUPA Robusta Coffee, dengan tagline “Hitam Pekat Semangat Tetap Kuat”, adalah kopi Robusta Lampung yang dipetik dari perkebunan dataran tinggi.

“Nikmati cita rasa khas tanah Lampung dalam setiap teguk,” tulis kemasannya. Kopi ini diproduksi oleh KUPS Petani Mandiri Agroforestry Lestari Pesawaran, dengan ketinggian tanam 700 mdpl.

Teori Pembangunan dari Pinggir Meja Kopi

Obrolan mengalir deras. Mas Yopie bercerita tentang petinggi Bappenas yang berkunjung ke Kedondong. Mas Arief berbagi pengalaman menjelajahi air terjun di sekitar Gunung Betung dan Tahura Wan Abdulrahman. Sementara aku, bercerita tentang dunia kerja baru yang jauh berbeda.

Mengapa kopi lokal penting? Teori endogenous development menjelaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus bertumpu pada potensi lokal.

Kopi AKARUPA adalah contoh nyata produk yang tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga menggerakkan ekonomi petani. Ketika kita memilih kopi lokal, kita ikut membangun ekosistem dari hulu ke hilir.

“Kopi Robusta Lampung Barat dan Arabika Kamojang siap kita seruput, Yai,” ucapku sembari menuangkan ke gelas khas.

Inovasi Lokal dalam Setiap Tegukan

Saat tawa kami menggelitik, Mas Rofa, pemilik toko, menyapa.

“Om, saya bawakan minuman segar, Kombucha Lemongrass. Ini gratis, masih promo,” katanya menaruh botol 250 ml.

Kombucha buatan Ternatea brand teh artisan Lampung sejak 2020 adalah teh fermentasi rasa sereh. Komposisinya: air mineral, biang kombucha, scoby, gula, daun teh hijau, dan batang sereh.

Ini bukan sekadar minuman, tapi bukti bahwa Lampung bisa menghasilkan produk ekonomi kreatif bernilai tambah.

Baca juga:
* Dominasi Kopi Lampung di Pasar Global dan Strategi Ekonomi Ekspor 2025

Ngopi sebagai Ruang Diskusi Publik

Malam itu, meja kopi menjadi ruang diskusi publik yang hangat. Dari cerita pembangunan hingga inovasi lokal, semuanya mengalir dalam satu tegukan.

Kopi AKARUPA dan Kombucha Ternatea bukan hanya produk, mereka adalah simbol resiliensi dan kreativitas masyarakat Lampung.

Seperti kata Saskia Sassen, ruang publik tak selalu berupa gedung megah. Kadang, ia berupa meja kayu di toko kopi sederhana, tempat ide-ide lahir dari percakapan santai. Inilah kekuatan kopi menyatukan, menginspirasi, dan membangun.

‘#KopiLampung #AKARUPACoffee #EkonomiLokal #KombuchaLampung #PembangunanBerkelanjutan

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *