Tiga Dimensi Keberhasilan KPH yang Sering Terlupakan

Tiga Dimensi Keberhasilan KPH yang Sering Terlupakan
Kegiatan KPH bersama para tamu dari Pulau Jawa di KUPS Petani Mandiri Agroforestri Lestari, sebagai bagian dari praktik pengelolaan hutan berbasis masyarakat melalui pendekatan agroforestri. (Foto: Yopie Pangkey)

Oleh Mahendra Utama | Pemerhati Pembangunan

Ecological, Social, dan Economic Outcomes: Ukuran Baru Efektivitas KPH

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kemenhut, Laksmi Wijayanti, menyatakan: “Kalau kita bicara soal tata kelola dan pemanfaatan hutan, governance posisi KPH menjadi sangat penting. Ekosistem hutan mencakup pelaku usaha dan regulator, tapi ada yang tidak kalah penting, yaitu manajer tapak di lapangan”.

Read More

Namun menjadi manajer tapak berarti KPH harus dinilai dari apa yang berubah di lapangan bukan sekadar dari kertas kerja. Kerangka penilaian efektivitas kawasan lindung yang berorientasi sosial-ekologis menekankan bahwa efektivitas harus dinilai dari tiga dimensi yang saling terkait: hasil ekologis, hasil sosial, dan interaksi sosial-ekologis.

Apa yang selama ini diukur masih terbatas pada indikator administratif: jumlah kelompok difasilitasi, persentase anggaran terserap. Padahal, “100 kelompok mendapat fasilitasi” belum menjawab: “Berapa yang kini benar-benar mandiri dan mampu menjaga kawasan hutannya?”

Kesenjangan antara regulasi dan implementasi ini menjadi bottleneck birokrasi yang sedang coba diurai melalui revisi Permen LHK Nomor 8 Tahun 2021.

Apa yang seharusnya diukur jauh lebih bermakna: tutupan hutan membaik, deforestasi menurun, produktivitas kawasan meningkat, usaha masyarakat berkembang, pendapatan naik, kelembagaan masyarakat mandiri, konflik dapat dicegah, dan nilai ekonomi hasil hutan bukan kayu meningkat.

KPH Pesawaran telah membuktikan pendekatan ini melalui praktik nyata: pengelolaan berbasis KTH dan Perhutanan Sosial serta pendekatan spasial berbasis GIS untuk memantau perubahan kawasan.

Gapoktanhut Pujo Makmur di Desa Banjaran, misalnya, kini mengelola hutan lindung dengan sistem agroforestri berstrata kapulaga di tajuk bawah, cengkeh dan kakao di tajuk tengah, durian dan karet di tajuk atas mengintegrasikan nilai ekologi dan ekonomi.

Baca juga:
* Model Agroforestri Pesawaran Jadi Rujukan Nasional, Setelah Kalteng Kini Giliran Kalsel Belajar

Tiga pertanyaan sederhana menjadi inti evaluasi: Apa yang berubah pada hutannya? Apa yang berubah pada masyarakatnya? Apa yang berubah pada ekonomi wilayahnya?

‘#KPHEfektif #HutanSosial #Agroforestri #MasyarakatSejahtera #PengelolaanHutan

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *