Pasar sudah bergerak ketika sebagian besar kota baru memulai pagi. Pedagang menata barang, pekerja mengangkut dagangan, pembeli mulai berdatangan.
Sabtu (15/8/2026) pagi, suasana itu menjadi objek buruan 15 orang yang menyusuri kawasan pasar di Bandar Lampung. Bukan untuk berbelanja, melainkan untuk merekam kehidupan pasar lewat lensa kamera. Pasar Raya Lebak Budi bersama The Hurun Lampung menggelar walking tour photo hunting bertema “Kehidupan di Pasar 24 Jam Tidak Pernah Tidur”.
Dari Lebak Budi ke Pasar Pasir Gintung
Titik kumpul berada di Pasar Raya Lebak Budi. Dari sana, peserta berjalan menuju Pasar Pasir Gintung, Pasar SMEP, hingga Pasar Bambu Kuning, mengambil gambar sepanjang perjalanan menggunakan kamera profesional maupun ponsel.
Pengelola Pasar Raya Lebak Budi, Jaka Maulana, mengatakan kegiatan ini adalah ajakan menikmati suasana pagi sekaligus melihat kehidupan pasar dari jarak dekat. Menurutnya, pasar selalu menyimpan cerita yang sering luput dari perhatian.
“Pasar itu selalu punya cerita. Ada aktivitas pedagang, pembeli, pekerja, lalu lintas barang, sampai berbagai kejadian kecil yang mungkin selama ini kita lewatkan begitu saja,” kata Jaka.
Peserta yang ikut datang dari latar belakang beragam, mulai dari pegiat media sosial, fotografer senior, fotografer amatir dan profesional, pemula, hingga penerbang paramotor.
Keberagaman itu membuat kegiatan tidak hanya menjadi ajang berburu foto, tapi juga ruang bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda terhadap kota tempat mereka tinggal.
Dari Langit ke Lorong Pasar
Salah satu peserta, Budhi Marta Utama, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Budhi bukan orang baru dalam dunia perburuan gambar. Sebagai penerbang paramotor, ia sudah berkeliling berbagai daerah di Indonesia, termasuk sejumlah wilayah di Lampung, untuk memotret lanskap dan budaya.
Kali ini sudut pandangnya berpindah. Ia meninggalkan perspektif ketinggian dan berjalan di antara aktivitas pasar untuk mencari cerita dalam jarak dekat.
“Senang ada kegiatan seperti ini. Di tengah derasnya konten video di media sosial, kita masih punya ruang untuk berburu foto bersama dan melihat kehidupan sehari-hari secara langsung,” ujar Budhi.
Ia menilai hal menarik dari kegiatan ini adalah masih adanya fotografer muda yang mau turun langsung ke pasar tradisional untuk merekam kehidupan sehari-hari, cerita yang menurutnya nyaris tidak pernah masuk arus konten media sosial.
“Yang menarik, masih banyak fotografer muda yang mau turun ke pasar tradisional dan merekam kehidupan sehari-hari. Banyak cerita di sana yang nyaris luput dari perhatian,” katanya.
Baca juga:
* Dua Tahun Berjalan, Pasar Raya Lebak Budi Bidik Pertumbuhan Pedagang dan Jadi ‘Rumah Ketiga’
Harapan Jadi Agenda Rutin
Perjalanan dari Pasar Raya Lebak Budi menuju Pasar Pasir Gintung, Pasar SMEP, dan Pasar Bambu Kuning berakhir menjelang siang. Sepanjang rute, peserta bergantian berhenti memotret pedagang yang menata dagangan, pekerja yang mengangkut barang, hingga interaksi jual beli di lorong-lorong pasar.
Budhi berharap kegiatan serupa bisa digelar rutin, misalnya sebulan sekali, agar mempertemukan lebih banyak fotografer lintas generasi.
“Kalau bisa, kegiatan seperti ini dilakukan rutin, misalnya sebulan sekali,” ujarnya.
Bagi Budhi, kegiatan ini adalah cara mengajak orang menikmati suasana pagi sekaligus melihat kehidupan pasar dari jarak yang lebih dekat, sesuatu yang menurutnya sering luput dari perhatian sehari-hari.



