Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali menyambangi Desa Harapan Jaya di Kecamatan Way Ratai, Minggu (20/9/2026), tanpa iring iringan mobil dinas. Ia memilih menyetir sendiri kendaraannya, didampingi sang istri, Cindy Aria Anton, yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran.
Kunjungan ini menyusuri jalur wisata yang dirintis warga secara swadaya, sekaligus menjadi momentum menyapa warga di desa tersebut.
Desa Harapan Jaya berada di Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, di kaki Gunung Pesawaran, sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Bandar Lampung lewat jalur Lempasing dan Pantai Klara, atau sekitar 70 kilometer lewat jalur Gedongtataan, Kedondong.
Titik masuk berada di jalan dekat Pasar Umbul Kluih, mengarah ke utara menuju desa.
Dari Viral ke Sunyi, Jejak Kejayaan Bukit Cendana
Nama Harapan Jaya sempat melambung pada 2022, ketika Bukit Cendana, bumi perkemahan di desa ini, viral di media sosial dan menjadi lokasi beberapa acara sepeda yang menyedot ribuan peserta dari Jawa, Sumatera, hingga Bali.
“Waktu itu banyak rumah warga jadi tempat menginap peserta,” kenang Ali, petani kopi lokal sekaligus pegiat wisata Harapan Jaya.
Rumah warga bertransformasi jadi homestay, halaman disewakan jadi kantong parkir, warung dadakan bermunculan. Namun momentum itu meredup memasuki 2023 seiring bergesernya tren wisatawan ke destinasi lain. Bukit Cendana kembali sunyi, homestay kembali jadi ruang tamu biasa.
“Tapi ini justru jadi cambuk buat kami,” ujar Ali.
Bersama pemuda dan pegiat desa, ia merintis jalur trekking baru menuju Puncak Gunung Pesawaran secara gotong royong, tanpa dana besar. Jalur itu kini dikenal sebagai Jalur Puncak Nirwana, dengan titik singgah berkemah di Camping Ground Bukit Lantana.
Air Terjun Sinar Tiga dan Kuliner Labu Gula Aren

Sebelum sampai ke Bukit Lantana, Antonius dan keluarga menyempatkan diri mengunjungi Air Terjun Sinar Tiga. Jaraknya hanya kurang dari satu kilometer dari lokasi parkir, dengan medan yang tergolong ringan.
Kunjungan berlangsung di tengah musim kemarau panjang. Debit airnya tidak sederas musim penghujan. Air hanya mengalir tipis di permukaan tebing batu hitam. Namun lanskap hutan tetap terasa utuh dalam ketenangannya.
Bagi Harapan Jaya, daya tarik wisata rupanya tidak melulu bergantung pada debit air terjun. Pengalaman berjalan melintasi kebun kopi, merasakan rimbunnya Tahura, dan berinteraksi dengan warga desa menjadi bagian yang sama pentingnya.
Setelah itu, di Basecamp Pendakian Nirwana, Antonius mencicipi Labu Gula Aren Kukus, kuliner khas Harapan Jaya. Sebuah labu utuh dibelah bagian atasnya, dibersihkan, lalu diisi gula aren murni sebelum dikukus hingga daging buahnya melunak dan gula arennya meresap. Disajikan bersama santan gurih.
Wabup, Uang Wisatawan Harus Berhenti di Kantong Warga

Di sela perjalanan, Antonius menyapa 20 pelaku UMKM dan pemuda desa yang mengikuti pelatihan pengemasan produk dan pemasaran digital di balai desa. Ia menyoroti pola belanja wisatawan yang selama ini merugikan ekonomi desa.
“Banyak wisatawan luar Lampung yang datang ke Pesawaran beli bekal di Bandar Lampung, jalan jalan di Pesawaran, makan lalu buang sampah di Pesawaran, kemudian kembali lagi beli oleh oleh di Bandar Lampung. Ini harus kita ubah,” tegas Antonius.
Pemkab Pesawaran berkomitmen memperbaiki infrastruktur secara bertahap, termasuk akses jalan menuju Harapan Jaya dan jalan sepanjang 5,2 kilometer menuju kawasan Tanjung Putus lewat skema Inpres Jalan Desa.
“Dari Teluk sampai Teluk Kiluan insyaAllah akan mulus di akhir tahun,” ujar Antonius, merujuk perbaikan jalan utama kabupaten sebelum berlanjut ke akses jalan desa wisata.
Camping Ground Bukit Lantana

Dari kebun-kebun kopi warga, Ali dan kawan-kawan mulai membuka jalur trekking. Mereka menargetkan Puncak Gunung Pesawaran, puncak yang selama ini lebih sering didaki lewat jalur lain. Mereka menamakan jalur baru itu Jalur Puncak Nirwana.
Bukit Lantana, sebuah kawasan camping ground di tengah perjalanan, dijadikan titik istirahat. Di sana, pendaki bisa mendirikan tenda, menikmati pemandangan perbukitan, dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.
“Kami buka jalur ini bergotong royong. Tidak ada bantuan besar. Yang penting ada jalan dulu,” ujar Ali.
Jalur ini tidak hanya menawarkan trekking. Sepanjang perjalanan, pendaki disuguhi pemandangan kebun kopi warga yang tumbuh rapat. Salah satunya milik Ali sendiri, yang juga memproduksi kopi lokal merek M&M dalam bentuk roasted bean dan bubuk.
Jalur kemudian memasuki kawasan Tahura Wan Abdul Rachman. Kanopi hutan menghadirkan udara sejuk, aroma tanah, dan pepohonan sepanjang perjalanan. Bagi pendaki yang ingin istirahat lebih lama, Bukit Lantana menyediakan ruang untuk berkemah.
Baca juga:
* Pelaku UMKM Pariwisata Harapan Jaya Way Ratai Belajar Kemasan dan Medsos
Modal Lengkap, Tinggal Dikelola
Kebun kopi warga, kawasan hutan yang masih terjaga, air terjun, kuliner khas, dan jalur pendakian membuat Harapan Jaya punya modal wisata yang lengkap.
Ali tahu, membangun kembali Harapan Jaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukit Cendana pernah mengajarkannya bahwa kejayaan bisa sirna. Tapi Puncak Nirwana juga mengajarkannya bahwa dari kebun kopi dan semangat warga, sesuatu yang baru bisa tumbuh.
“Yang penting jangan menyerah dulu,” katanya.
Sore itu perjalanan berujung di Camping Ground Bukit Lantana, saat gerimis tipis mulai membasahi pepohonan dan angin pegunungan menyapu hamparan perbukitan hijau di bawahnya.
Harapan Jaya kini punya modal lengkap: kebun kopi, kerimbunan Tahura, keasrian Sinar Tiga, kuliner khas, dan jalur pendakian yang lahir dari keringat warganya sendiri.
Wakil Bupati Antonius Muhammad Ali berpesan, agar warga giat melakukan kerja berkelanjutan, membenahi kemasan produk, memperluas promosi digital, dan memastikan jalan benar benar terbangun.
“Masyarakat juga harus memperhatikan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Kalau wisatawan puas, merasa nyaman dan aman, mereka bisa Kembali lagi dan mengajak kenalannya untuk datang kemari,” pungkasnya.



