Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali menyatakan skema Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial tidak membebani anggaran kabupaten maupun provinsi, namun justru mempercepat pembangunan daerah.
Wabup Antonius menyampaikannya saat meninjau Kelompok Tani Hutan (KTH) Agroforestri Lestari di hutan lindung Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Selasa (29/9/2026) sore. Kopi hasil kelompok ini sudah diseduh dan diminum Menteri Kehutanan dan Wakil Menteri Kehutanan di Jakarta beberapa waktu lalu.
Antonius datang bersama Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran, Cindy Aria Anton, untuk melihat langsung usaha dan kemandirian KTH yang dipimpin Fatoni.
Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Di lokasi ini, dokumen IAD, atau pengembangan wilayah terpadu berbasis perhutanan sosial, di Kabupaten Pesawaran telah menjelma menjadi penggerak ekonomi hijau yang konkret, mandiri, dan inklusif.
IAD Perhutanan Sosial Jadikan Pemda Fasilitator
Peran pemerintah daerah sebagai fasilitator tecermin dalam rombongan kunjungan hari itu. Fatoni dan istrinya, yang mengelola KTH Agroforestri Lestari, disambut Yudi Vaizol, pemilik Kedai Kopi Lebudia di Bandar Lampung.
Kehadiran Yudi mempertemukan sisi hulu (upstream) dengan hilir (downstream). Petani tak lagi bingung mencari pembeli (off-taker), sebab kopi lokal mereka yang bermerek AKARUPA kini tersambung langsung ke bisnis kedai kopi modern di perkotaan.
“Implementasi IAD ini sama sekali tidak membebani anggaran kabupaten maupun provinsi. Justru sebaliknya, skema ini sangat membantu percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat daerah. Pemkab dan Pemprov kini tinggal berdiri tegas menjalankan perannya di jalur yang tepat, yaitu sebagai regulator dan fasilitator,” ujar Antonius di sela peninjauannya.
Tumpang Sari di Hutan Lindung 700 Mdpl
Penyerapan pasar itu ditopang kualitas yang dijaga dari hulu. Di kawasan hutan lindung pada ketinggian 700 mdpl, Fatoni dan para anggota KTH konsisten menerapkan pola tumpang sari (agroforestri).
Kopi dan kakao ditanam berdampingan dengan tanaman bernilai ekonomi tinggi, yakni kemiri, pala, cengkeh, dan pisang. Lingkungan kebun dijaga secara berkelanjutan dengan pupuk organik ecoenzyme.
Alat Pascapanen Ubah Biji Mentah Jadi Seduhan

Antonius juga meninjau deretan sarana produksi dan pengolahan kopi di pekarangan dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Petani Mandiri milik Fatoni. Bantuan pemerintah itu tidak mangkrak, melainkan dikelola secara produktif.
Secara bertahap, KTH menerima mesin pengupas kopi (pulper/huller), mesin sangrai (roasting), dan yang terbaru mesin espresso dari Pusat Penyuluhan (Pusluh) Kehutanan, BP2SDM Kementerian Kehutanan, yang tiba awal Agustus lalu.
Dengan alat-alat itu, Fatoni tak lagi sekadar menjual biji mentah (green bean) berharga murah. Ia menguasai seluruh rantai nilai, mulai dari pascapanen Robusta dan Arabika hingga pemrosesan khusus Liberika anaerob, serta mahir menyajikan seduhan manual (V60 dan tubruk) sampai ekstraksi espresso modern bagi tamu.
Kemampuan itu tumbuh berkat pendampingan lintas sektor: praktisi roastery lokal Chaerul Saleh (Gens Coffee Roastery) untuk teknis pengoperasian dan racikan, serta Analianasari, dosen Pascasarjana Politeknik Negeri Lampung (Polinela), untuk metodologi pemrosesan standar akademis.
Fatoni Terbang ke Jakarta Bawa Kopi Liberika
Beberapa waktu lalu, Fatoni yang sehari-hari berkutat dengan cangkul dan tanah kebun di Kedondong berhasil menggapai impian sederhananya: naik pesawat terbang untuk pertama kali dalam hidupnya.
Didukung Balai Perhutanan Sosial Palembang, ia terbang ke Jakarta membawa kopi Liberika anaerob olahannya sendiri untuk mewakili UPTD KPH Pesawaran dalam Pameran Pasar Rakyat RHL di Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan.
Di Jakarta, kopi petani hutan asal Pesawaran ini tidak hanya dipajang. Fatoni menyeduhnya langsung, Menteri Kehutanan meminumnya, dan Wakil Menteri Kehutanan bahkan membelinya secara khusus. Pengalaman itu menunjukkan bahwa produk perhutanan sosial Pesawaran mampu menembus panggung nasional bila petani mendapat fasilitas dan pendampingan yang tepat.
Pesawaran Dorong Lampung Masuk Peta MUK Nasional
Kisah di Desa Sinar Harapan bukan peristiwa tunggal. Pada waktu yang sama dengan kunjungan Antonius, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang menggelar pelatihan vokasi di Desa Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau.
Pelatihan itu merupakan pelaksanaan Nota Kesepahaman (MoU) antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Kehutanan, dengan pemateri dari unsur akademisi dan swasta.
Baca juga:
* Wabup Pesawaran Jelajahi Harapan Jaya Way Ratai, dari Kebun Kopi hingga Air Terjun
Ini menunjukkan pendekatan pentahelix dalam IAD Pesawaran bergerak serempak, dari kementerian pusat, dinas provinsi, pemerintah kabupaten, akademisi, dan bisnis hingga tingkat desa.
Konsolidasi kawasan yang terintegrasi itu ikut membuahkan hasil. Kabupaten Pesawaran resmi menjadi salah satu pendorong utama yang membawa Provinsi Lampung masuk ke Peta Besar Multiusaha Kehutanan (MUK) Nasional.
Dengan penetapan MUK Nasional dan berjalannya Masterplan IAD, kawasan hutan lindung Pesawaran kini tak lagi dipandang semata sebagai benteng konservasi pasif, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi hijau baru yang menyejahterakan masyarakat tapak, melestarikan lingkungan, dan memperkuat pembangunan daerah tanpa menguras APBD.



