Pelatihan Agroforestri Kakao, Kopi, Alpukat, dan Aren bagi petani hutan di Kabupaten Pesawaran berakhir di Babakan Loa, Kedondong, Jumat, 30 Oktober 2026.
Pelatihan yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang bersama kementerian terkait ini menyasar 12 Kelompok Tani Hutan (KTH), dengan kuota 16 orang per angkatan, untuk memperkuat kompetensi kerja hijau (green jobs) masyarakat sekitar hutan.
Rangkaian pelatihan ini digelar di berbagai wilayah, antara lain Bayas Jaya, Bangun Rejo, Banding Agung, Baturaja, Maja, dan Tegineneng.
Bagian dari Upaya Nasional Membuka Lapangan Kerja Baru
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya nasional untuk mengoptimalkan sumber daya manusia serta memperluas kesempatan kerja baru.
Fokus utamanya meliputi pemberdayaan petani di kawasan hutan, pengembangan perhutanan sosial dan sistem agroforestri (tumpang sari), serta penguatan pelatihan vokasi dan peningkatan keterampilan (skilling/reskilling).
Tujuannya, masyarakat sekitar hutan memiliki kompetensi kerja hijau yang berkelanjutan.
KPH Pesawaran: Petani Diharapkan Makin Mandiri
Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Pesawaran Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Iskandar, mengapresiasi sinergi pelatihan vokasi ini.
Menurutnya, program tersebut menjadi momentum penting bagi KTH yang ada di Pesawaran.
Lewat pendampingan dan peningkatan kompetensi, ia berharap, petani semakin mandiri secara ekonomi sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian kawasan hutan.
Pemateri Tekankan Hilirisasi Kopi dan Kakao
Sejalan dengan itu, Hairul Saleh dari Gens Coffee Roastery, yang hadir sebagai pemateri, menekankan pentingnya penguatan hilirisasi produk.
Melalui pengolahan pascapanen yang tepat, kopi dan kakao dari kawasan perhutanan sosial memiliki potensi besar untuk menembus pasar yang lebih luas.
Pelatihan vokasi ini dinilai sangat membantu petani meningkatkan kualitas produk, sehingga mereka tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk bernilai jual tinggi.
Potensi Lokal
Potensi lokal yang melimpah turut disoroti oleh Ketua KTH Bumi Lestari I, Dahyoto atau yang akrab disapa Idoy.
Ia mengungkapkan bahwa di desanya terdapat banyak tanaman kemiri, namun potensi komoditas kopi juga masih sangat besar dan belum dibudidayakan secara maksimal.
“Di desa kami memang banyak kemiri, tetapi ada potensi kopi yang masih belum dibudidaya maksimal. Melalui pelatihan ini, anggota KTH kami diajarkan praktek berkebun yang baik terkait kopi,” ujar Idoy.
“Petani hutan kami diajarkan cara memotong ranting, memberi pupuk organik, hingga cara panen yang lebih baik agar hasil panen benar-benar maksimal,” ujar Idoy.
Baca juga:
* Kemenhut–Kemnaker Luncurkan Pelatihan Agroforestri: Menyiapkan Green Jobs, Menjaga Hutan Lestari
Agroforestri Diharapkan Perkuat Ekosistem Agroindustri
Melalui penerapan sistem agroforestri yang mengintegrasikan komoditas unggulan seperti kakao, kopi, alpukat, dan aren, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem agroindustri.
Program ini juga berperan penting dalam membuka lapangan kerja baru melalui hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) serta mewujudkan peluang kerja berwawasan lingkungan di Kabupaten Pesawaran.



