Wakil Bupati Pesawaran Antonius Muhammad Ali menegaskan bahwa Kopi Pesawaran bukan pemain baru. Menurut dia, kawasan Pesawaran, khususnya Way Lima dan Kedondong, sudah memproduksi kopi sejak 1890-an, dan hasil panennya diekspor sampai Rotterdam, Belanda.
Pernyataan itu disampaikan Antonius saat menyeruput racikan kopi lokal bersama Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran, Cindy Aria Anton, di gubuk kayu milik petani kopi Fatoni. Lokasinya di pekarangan rimbun Desa Sinar Harapan, Kecamatan Kedondong, Selasa (29/9/2026) sore.
Dalam kunjungan itu, Antonius tidak hanya menikmati seduhan kopi khas Pesawaran, tetapi juga mengulas kembali perjalanan kopi lokal, dari komoditas era kolonial hingga karya berkelas barista modern.
Sejarah Kopi Pesawaran Berakar Sejak 1890-an
Di sela perbincangan santai, Antonius menegaskan bahwa tradisi dan reputasi Kopi Pesawaran telah berakar kuat sejak lebih dari satu abad lalu.
“Kopi Pesawaran ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Saya baru membaca narasi sejarahnya, ternyata kawasan Pesawaran, khususnya Way Lima dan Kedondong, sudah memproduksi kopi sejak tahun 1890-an. Bahkan pada masa itu, hasil panennya sudah diekspor sampai ke Rotterdam, Belanda. Jadi, jangan bilang Pesawaran ini pemain baru di dunia kopi,” ungkap Antonius.
Menurut dia, akar sejarah yang panjang itu menjadi landasan moral dan kultural bahwa tanah Pesawaran memiliki kesuburan serta karakter unik yang sangat cocok untuk menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Setiap Tetes Kopi Ikut Menjaga Hutan
Sistem budidaya yang diterapkan Fatoni di Kedondong mengandalkan pola tumpang sari (agroforestri). Tanaman kopi tumbuh berdampingan dengan pepohonan pelindung dan tanaman bernilai ekonomi lainnya. Pola ini dikenal membantu mencegah erosi dan mempertahankan fungsi resapan air kawasan hutan.
Antonius menyoroti dimensi ekologis di balik kebiasaan masyarakat perkotaan menyeruput kopi. Bagi dia, menikmati segelas kopi dari lereng Gunung Pesawaran berarti ikut mendukung penyeimbangan alam dan kelestarian lingkungan.
“Di setiap tetes kopi yang orang kota minum, ada keringat dan perjuangan petani yang menjaga hutan agar tetap lestari. Artinya, setiap kali kita menikmati dan membeli kopi lokal ini, itu sama saja kita ikut berkontribusi menjaga kelestarian hutan,” tegas Antonius.
Fatoni Olah Robusta, Arabika, hingga Liberika Anaerob
Dari pengolahan pascapanen hingga penggunaan mesin roasting dan mesin espresso canggih, Fatoni bersama KTH Agroforestri Lestari mampu menyajikan varietas Robusta, Arabika, hingga Liberika anaerob dengan profil rasa yang presisi. Kualitas olahan ini bahkan pernah dipajang dan diminum langsung oleh Menteri Kehutanan di Jakarta.
Antonius optimistis, dengan landasan sejarah yang kuat dan komitmen menjaga alam, masa depan industri kopi di Pesawaran akan semakin cemerlang. Optimisme itu didorong oleh semakin banyaknya petani tapak yang menguasai teknik dan pengetahuan hilirisasi modern seperti Fatoni.
“Bantuan alat dari pemerintah dimanfaatkan secara maksimal. Kualitas dan cita rasa kopi Pesawaran seharusnya sudah jauh lebih baik dan siap bersaing di pasar yang lebih luas,” tambah Antonius.
Baca juga:
* Wabup Antonius: Skema IAD Perhutanan Sosial Bantu Pembangunan Daerah
Akses AKARUPA ke Kedai Kopi Kota Terbuka
Yudi Vaizol, pemilik Kedai Kopi Lebudia dari Pasar Raya Lebak Budi, Bandar Lampung, turut hadir dalam kunjungan tersebut. Kehadirannya membuka pintu akses bagi AKARUPA, merek kopi lokal buatan Fatoni, untuk masuk secara berkelanjutan ke jejaring kedai kopi perkotaan.
Dengan sejarah sejak 1890-an, komitmen menjaga kelestarian hutan, dan penguasaan teknologi seduh modern, Kopi Pesawaran kini bukan sekadar minuman penghangat, melainkan simbol sejarah, kelestarian, dan kemandirian ekonomi masyarakat lokal.



