Oleh: Mahendra Utama | Eksponen 98
Dari Eksportir Bahan Baku ke Negara Manufaktur
Indonesia tidak bisa terus menjual sawit, kelapa, sagu, rumput laut, dan hasil perikanan dalam bentuk mentah. Pesan Briefing Industri & Ekonomi Nasional 5 November 2026 jelas: nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri.
Dalam kerangka global value chain, negara yang hanya memasok bahan baku menikmati margin kecil dan rentan terhadap gejolak harga. Sebaliknya, hilirisasi memindahkan Indonesia ke simpul produksi bernilai tinggi.
“Komoditas lokal masih banyak diekspor mentah. Saatnya beralih ke produk olahan yang kompetitif,” tegas Sarmuji.
Pernyataan ini menegaskan bahwa masalah utama bukan kekayaan alam, melainkan struktur industri.

Baca juga:
* Kutukan Sumber Daya: Mengapa Negara Kaya Alam Justru Rentan Krisis?
Teori Resource Curse dan Jawaban Industrialisasi
Teori resource curse menunjukkan kelimpahan sumber daya bisa melemahkan diversifikasi jika negara gagal membangun kapasitas industri.
Karena itu, hilirisasi harus disertai inovasi, substitusi impor, investasi, dan peningkatan produktivitas.
Tanpa itu, Indonesia hanya memindahkan ketergantungan dari ekspor mentah ke impor barang antara.
Baca juga:
* Rp9,5 Triliun untuk 7 Komoditas: Ambisi Besar Hilirisasi Pertanian Indonesia
Rekomendasi yang Harus Dijalankan
Perkuat industri pengolahan produk antara; kembangkan pasokan domestik; evaluasi insentif fiskal; awasi kepatuhan investasi; dan tingkatkan kompetensi SDM.
Dengan begitu, Indonesia bukan sekadar negara kaya komoditas, tetapi kekuatan manufaktur yang berdaya saing global.
‘#Hilirisasi #IndustriNasional #ManufakturIndonesia #NilaiTambah #DayaSaing



