Oleh Mahendra Utama | Pemerhati Pembangunan
Paradoks Hutan Lampung dan Penurunan Kontribusi Ekonomi
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyoroti penurunan kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB Lampung dari 0,37 persen (2015) menjadi 0,303 persen (2024).
Angka ini menunjukkan paradoks: hutan luas, namun kesejahteraan warga sekitar belum optimal.
Jihan menegaskan, “Pengelolaan hutan bukan hanya menjaga kawasan, tetapi juga memastikan kawasan hutan tetap terjaga dan produktivitasnya mampu mendukung perekonomian masyarakat di sekitar hutan”.

Agroforestri, Teori yang Terbukti
Agroforestri menawarkan solusi berbasis bukti. Leimona dan van Noordwijk (2017) dalam Palawija Forum menyatakan bahwa sistem berbasis pohon “menyediakan ketahanan pangan, bioenergi, dan pendapatan… serta berfungsi sebagai tabungan hidup bagi masyarakat miskin, menyerap fluktuasi harga pasar”.
Di Lampung, Wagub Jihan mendorong pengembangan komoditas unggulan per KPH. Pendekatan ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penertiban kawasan hutan agar manfaatnya kembali ke rakyat.
Hilirisasi sebagai Peta Jalan
Mendorong hilirisasi semua komoditas hasil hutan bernilai tambah tinggi adalah peta jalan terbaik.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan hilirisasi agroforestri “meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga keberlanjutan sumber daya hutan”.
Cara pandang Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung saat ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Agroforestri adalah pilihan rasional untuk kesejahteraan masyarakat seputar hutan. Tanpa hilirisasi, potensi hutan hanya menjadi angka statistik yang menurun.
#AgroforestriLampung #HutanSejahtera #HilirisasiHutan #EkonomiHijau #LampungBerkelanjutan



