Matahari Kamis (6/8/2026) mulai terasa terik ketika kami turun di Pasar Sayur 78, Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan. Bersama Ketua TP PKK Kabupaten Pesawaran Cindy Aria Anton, Wakil Ketua TP PKK Lampung Selatan Reni Apriani, serta dua rekan, Rahmawati dan Citra, kami berjalan kaki menuju Jalan Pura Candi Bentar, pusat penyelenggaraan Ngaben Massal Balinuraga.
Sepanjang jalan, suasana desa terasa berbeda dari hari-hari biasa. Deretan bade dan lembu berdiri megah di kanan dan kiri jalan. Ukiran berwarna emas, merah, hitam, dan putih memantulkan cahaya matahari, sementara warga hilir mudik membawa perlengkapan upacara. Di beberapa sudut, pengunjung berhenti mengambil gambar, mengabadikan momen yang hanya datang setiap tiga tahun sekali.
Esok harinya, Jumat (7/8/2026), desa ini akan mencatat sejarah. Sebanyak 285 jenazah, 153 orang dewasa dan 132 anak-anak, akan diberangkatkan bersama dalam Ngaben Massal terbesar yang pernah diselenggarakan di Balinuraga.
Namun, bukan angka itu yang paling membekas dalam ingatan.
Bukan pula bade utama setinggi sekitar 24 meter yang menjulang di atas permukiman warga.
Yang paling saya ingat justru sebuah pemandangan sederhana. Seorang ibu berjilbab sedang merapikan dagangannya di sebuah warung dadakan. Tak jauh darinya, ibu-ibu berjilbab lain datang membawa termos minuman, sebagian dibonceng anaknya. Mereka bukan peserta ritual. Namun mereka hadir sebagai bagian dari denyut kehidupan desa yang sedang bersiap menyambut hajatan besar.
Belakangan saya mengetahui, sebagian warga muslim juga akan ikut menggotong bade bersama masyarakat Hindu saat menyiapkan bade ke depan halaman rumah keluarga jenazah.
Di situlah saya merasa sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah upacara adat.
Saya sedang melihat bagaimana toleransi bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Dua pemuda Bali kemudian menghampiri kami. Dengan ramah mereka menawarkan diri menjadi pemandu. Sepanjang perjalanan, mereka memperkenalkan berbagai bagian dari prosesi ngaben, mulai dari bade, lembu, hingga perlengkapan upacara yang sebelumnya hanya saya kenal dari bacaan.
Ngaben merupakan upacara kremasi dalam tradisi Hindu, sebuah penghormatan terakhir kepada leluhur yang diyakini menjadi bagian dari perjalanan roh menuju kehidupan berikutnya. Jenazah diarak menggunakan bade, menara berhias ukiran yang menjadi simbol penghormatan keluarga sebelum prosesi kremasi dilaksanakan.

Kami kemudian diajak menuju sebuah pekarangan luas.
Di sana berdiri bade utama setinggi sekitar 24 meter. Menara itu menjulang jauh di atas rumah-rumah warga, menjadi pusat perhatian setiap orang yang datang. Dari dekat, detail ukiran dan susunan konstruksinya terlihat semakin mengagumkan.
“Tahun ini menjadi ngaben massal terbesar yang pernah kami laksanakan. Ada 285 jenazah yang akan diberangkatkan secara bersama-sama pada puncak acara besok,” kata Kepala Desa Balinuraga, Made Suwede.
Menurut Made, ngaben massal di Balinuraga dilaksanakan secara rutin setiap tiga tahun sekali. Ia memperkirakan tradisi itu telah berlangsung lebih dari lima belas kali, meski tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kali diselenggarakan.
Yang membuat penyelenggaraan tahun ini berbeda adalah jumlah pesertanya. Keluarga peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari sejumlah kabupaten di Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, hingga Bali.
Baca juga:
* Selusur Sirat, Saat Generasi Muda Lampung Menafsir Ulang Tradisi
Besarnya ukuran bade utama juga menghadirkan tantangan tersendiri. Pemerintah desa bahkan harus berkoordinasi dengan PLN untuk memutus sementara aliran listrik di sepanjang Jalan Pura Candi Bentar saat prosesi puncak berlangsung agar arak-arakan dapat melintas dengan aman.
Di balik kemegahan itu, ada satu nilai yang terus diulang oleh warga desa: ngayah.
Dalam tradisi masyarakat Bali, ngayah adalah bekerja dengan sukarela demi kepentingan bersama. Semangat itu terasa di hampir setiap sudut desa. Orang-orang bekerja tanpa terlihat terburu-buru. Ada yang mengatur perlengkapan, ada yang menerima tamu, ada yang memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.
Namun, penjelasan Made berikutnya membuat kami saling berpandangan.
“Warga muslim dan non-Hindu lainnya ikut meramaikan dengan berjualan makanan. Bahkan mereka juga ikut membantu menggotong bade, baik yang kecil maupun bade raksasa. Saat diarak menuju pemakaman besok, kami semua akan kembali bersama-sama menggotong semua bade ini,” ujarnya.
Ucapan itu bukan sekadar cerita.

Kami melihat sendiri bagaimana warga muslim menjadi bagian dari kesibukan hari itu. Warung-warung dadakan mulai berdiri. Aroma makanan dari dapur-dapur sederhana bercampur dengan kesibukan warga yang terus berdatangan. Tidak ada jarak yang terasa. Semua mengambil perannya masing-masing.
Mereka memang tidak mengikuti ritual keagamaan.
Namun mereka ikut menyukseskan peristiwa yang menjadi kebanggaan seluruh desa.
Rasa ingin tahu kemudian membawa kami bertanya apakah masyarakat luar diperbolehkan melihat persiapan yang berlangsung di rumah-rumah warga.
Jawabannya boleh.
Namun ada batas yang harus dihormati.
Kami dipersilakan melihat dari dekat, tetapi tidak memasuki bagian inti prosesi yang bersifat sakral.
Di salah satu pekarangan rumah, keluarga peserta tampak dengan penuh kehati-hatian membersihkan tulang-belulang leluhur dan menyiapkan berbagai perlengkapan sebelum semuanya dimasukkan ke dalam bade. Suasananya tenang. Hampir tak terdengar percakapan keras. Setiap orang memahami bahwa mereka sedang menjalankan penghormatan terakhir kepada anggota keluarga yang telah berpulang.
Rangkaian Ngaben Massal Balinuraga sendiri telah dimulai sejak 14 Juli dan dijadwalkan berakhir pada 10 Agustus 2026.
Beberapa hari sebelumnya, Selasa (4/8/2026), prosesi Upasaksi atau tahap memohon kesaksian suci sebelum seluruh rangkaian Pitra Yadnya dilaksanakan dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Lampung Selatan Ahmad Rifai bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani.
Di luar nilai spiritualnya, ngaben massal juga membawa berkah ekonomi bagi masyarakat.
Sekitar 300 pelaku UMKM membuka lapak di sepanjang Jalan Pura Candi Bentar. Mereka menjual canang, dupa, bunga, berbagai perlengkapan persembahyangan, hingga makanan, minuman, keripik, dan kue-kue tradisional.
Menjelang malam, kawasan itu berubah menjadi pusat keramaian. Pengunjung berdatangan dari berbagai daerah. Jalan desa yang biasanya lengang berubah ramai layaknya pasar malam.
Menurut Made Suwede, perputaran uang selama rangkaian kegiatan berlangsung dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap hari.
Tradisi yang lahir dari keyakinan agama itu pada akhirnya juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Sebelum meninggalkan Balinuraga, kami sempat berbincang sejenak mengenai pengalaman yang baru saja dilalui.

Cindy Aria Anton mengaku bahagia dapat datang langsung dari Kabupaten Pesawaran untuk menyaksikan bagaimana masyarakat Bali di Lampung terus memelihara tradisinya sekaligus hidup berdampingan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Menurutnya, Ngaben Massal Balinuraga bukan sekadar atraksi budaya, melainkan cerminan kekayaan budaya yang tumbuh harmonis di Provinsi Lampung.
Kesan itu memang terasa sepanjang kunjungan kami.
Di desa ini hidup masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Ada warga keturunan Bali, Jawa, Lampung, dan berbagai etnis lainnya. Ada yang beragama Hindu, ada yang muslim, ada pula yang Nasrani.
Perbedaan itu tidak dihapuskan.
Namun ketika desa memiliki hajatan besar, semua orang mengambil perannya masing-masing.
Ada yang menyiapkan perlengkapan.
Ada yang menyambut tamu.
Ada yang membuka warung.
Ada pula yang ikut menggotong bade.
Balinuraga pernah dikenal publik karena luka masa lalu. Namun, yang saya lihat hari itu adalah sebuah desa yang memilih merawat kebersamaan melalui keseharian, bukan melalui slogan.
Baca juga:
* Ngumbai Lawok di Festival Teluk Stabas 2026, Saat Tradisi Beradaptasi dengan Zaman
Esok hari, 285 jenazah akan diantarkan menuju peristirahatan terakhir dalam prosesi ngaben massal terbesar sepanjang sejarah desa ini.
Sebagian orang mungkin akan mengingat angka itu.
Sebagian lagi mungkin akan mengingat bade setinggi 24 meter yang menjulang di langit Balinuraga.
Namun bagi saya, yang paling layak dikenang justru pemandangan puluhan tangan yang memanggul bade tanpa terlebih dahulu bertanya apa agama orang di sampingnya.
Barangkali, di situlah wajah Lampung yang sesungguhnya: keberagaman yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dijalani, dipelihara, dan dipanggul bersama.
* Penulis: Yopie Pangkey



