Dosen Politeknik Negeri Lampung Teliti Modifikasi Proses Ekstraksi Material Silika Berbasis Sekam Padi Sebagai Bahan Pengisi

Picture1 Modifikasi Proses Ekstraksi Material Silika Berbasis Sekam Padi Sebagai Bahan Pengisi
Giffary Pramafisi Soeherman, S.T., M.T.P, Ketua Tim Peniliti. (Foto: ist)

Sekam padi merupakan produk samping dari proses pengolahan padi menjadi beras. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia memproduksi 53,142 juta ton padi (BPS, 2024).

Sejauh ini, sekam padi hanya dibakar untuk dikurangi jumlahnya di lingkungan. Hal tersebut memberikan dampak negatif berupa pencemaran udara di sekitar area penggilingan padi. Padahal, berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh banyak peneliti, sekam padi merupakan sumber material silika yang baik.

Read More

Menyadari hal ini, Dosen peneliti dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melakukan penelitian terhadap potensi silika dari sekam padi.

Tim peneliti yang diketuai oleh Giffary Pramafisi Soeherman, S.T., M.T.P. melalui pendanaan hibah penelitian yang diberikan oleh Politeknik Negeri Lampung melakukan penelitian lanjutan terhadap silika dari limbah sekam padi.

Giffary menjelaskan, penelitian lanjutan ini didasarkan kepada penelitian yang telah dilaksanakan tahun 2025 terhadap subjek yang sama yaitu silika yang berasal dari limbah sekam padi.

”Ya betul. Penelitian ini adalah kelanjutan dari penelitian tahun kemarin. Kami menemukan silika abu sekam padi ini memiliki kekurangan sehingga perlu kami teliti lebih lanjut bagaimana memperbaiki kekurangan ini,” kata Giffary.

Lebih lanjut, Fahrulsyah, yang merupakan anggota penelitian, mengungkapkan bahwa kekurangan dari silika abu sekam padi ini berupa kecenderungan aglomerasi atau menempel dengan dirinya sendiri ketika diaplikasikan sebagai bahan pengisi, sehingga membatasi aplikasinya sebagai bahan pengisi.

Menyadari kekuarangan tersebut, tim dosen peneliti Polinela yang terdiri dari Giffary Pramafgisi Soeherman, Fahrulsyah, Pridata Gina Putri, Nurma Pratiwi, Kurnia Rimadhanti Ningtyas, dan Muhammad Khoirul dengan bantuan lima orang mahasiswa Polinela (Vijay, Fika, Anhar, Wayan dan Shesya) melakukan penelitian terhadap proses ekstraksi silika dengan memanfaatkan co-solvent berupa pelarut alkohol yang terdiri dari etanol, aseton, dan isopropanol.

”Proses ekstraksi silika dilakukan dengan tahapan pengabuan, leaching, ekstraksi dengan NaOH, dan pengendapan menggunakan asam” ujar Nurma Pratiwi, tim peneliti.

”Namun pada penelitian ini, kami menambahkan pelarut alkohol setelah ekstraksi dengan NaOH. Hal ini yang membedakan dengan penelitian kami sebelumnya. Tujuannya yaitu untuk mempelajari bagaimana co-solvent ini mempengaruhi kecenderungan aglomerasi dari silika dari sekam padi” Ujar Giffary.

”Silika yang didapatkan kemudian kami karakterisasi untuk membuktikan keberhasilan penelitian meliputi analisis ukuran partikel, zeta potensial, dan aplikasinya terhadap biodegradable film” Tutur Kurnia Rimadhanti Nigtyas.

Hasil yang didapatkan yaitu dengan penambahan co-solvent setelah ekstraksi dengan NaOH, silika mengalami shifting dalam karateristik zeta potensial (ζ-potensial). Muhammad Khoirul menuturkan bahwa silika tanpa co-solvent memiliki nilai ζ-potensial sebesar -24 mV.

Sedangkan silika dengan co-solvent mengalami pergeseran nilai ini menjadi nilai ζ-potensial yang lebih dari +30 mV dan lebih kecil dari -30 mV yang menunjukkan kestabilan partikel silika yang lebih baik jika dibandingkan silika tanpa co-solvent.

”Hasil ini menunjukkan perubahan karakteristik aglomerasi silika menuju yang lebih stabil dan lebih baik jika diaplikasikan sebagai bahan pengisi” Ujar Giffary.

Picture2 Modifikasi Proses Ekstraksi Material Silika Berbasis Sekam Padi Sebagai Bahan Pengisi

Selain karakterisasi terhadap silika yang diperoleh, penerapannya terhadap kuat tarik film juga dianalisis untuk membuktikan keberhasilan penelitian. ”Hasilnya adalah silika sekam padi yang didapatkan dari perlakuan co-solvent memiliki nilai kuat tarik yang lebih tinggi jika dibandingkan silika tanpa co-solvent” Ujar Pridata Gina.

”Film dengan silika tanpa co-solvent memiliki kuat tarik sebesar 7,336 MPa, sedangkan dengan co-solvent kekuatan tariknya bisa mencapai sekitar 14 Mpa yang mana hampir dua kali lipat” Tutur Nurma Pratiwi.

Picture3 Modifikasi Proses Ekstraksi Material Silika Berbasis Sekam Padi Sebagai Bahan Pengisi

Melalui penelitian ini, Giffary Pramafisi selaku ketua penelitian menekankan bahwa terdapat potensi modifikasi proses ekstraksi silika yang berasal dari sekam padi untuk menciptakan material silika dengan kecenderunagn aglomerasi yang lebih rendah dan lebih stabil jika dibandingkan dengan silika sekam padi tanpa co-solvent, sehingga meningkatkan potensinya sebagai advance material untuk keperluan bahan pengisi.

Picture4 Modifikasi Proses Ekstraksi Material Silika Berbasis Sekam Padi Sebagai Bahan Pengisi
---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *