Lampung tercatat surplus besar untuk komoditas peternakan. Data Disnakkeswan Provinsi Lampung menunjukkan telur ayam ras surplus 46.863,7 ton dengan cadangan 138 hari, daging ayam ras surplus 22.996,1 ton dengan cadangan 68 hari, dan daging sapi/kerbau surplus 1.213,8 ton dengan cadangan 14 hari.
Namun di sisi lain, konsumsi protein hewani warga masih 15,62 gram per kapita per hari, di bawah rata-rata nasional yang mencapai 17,42 gram.
Kondisi itu menempatkan Lampung di posisi terendah kelima secara nasional untuk konsumsi protein hewani yang mencakup daging, telur, dan susu.
Rata-rata pengeluaran bulanan penduduk untuk ketiga komoditas itu juga rendah, yaitu Rp65.184 per kapita, merupakan yang terendah kedua di Sumatera setelah Aceh.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti, mengatakan surplus produksi tidak otomatis mencerminkan tingginya aksesibilitas maupun pemenuhan gizi masyarakat jika tidak dibarengi intervensi daya beli dan edukasi.
Menurutnya, rendahnya konsumsi dipengaruhi kombinasi faktor pendapatan, preferensi konsumen atau kebiasaan dan tradisi, serta literasi gizi.
Lili mencontohkan daerah seperti Aceh dan Bengkulu yang PDRB per kapitanya di bawah Lampung justru memiliki tingkat konsumsi protein hewani lebih tinggi, yang menunjukkan pola alokasi pengeluaran keluarga dan kesadaran gizi memegang peran krusial.
Guna mengatasi tantangan tersebut, Disnakkeswan Lampung merumuskan dua pendekatan utama, yakni sisi pasokan dan sisi permintaan.
Pada sisi pasokan, pemerintah menyalurkan bantuan ternak produktif berupa unggas dan kambing perah langsung ke masyarakat perdesaan untuk memacu ketersediaan susu, daging, dan telur secara mandiri di tingkat rumah tangga.
Pada sisi permintaan, pemerintah meningkatkan kapasitas ekonomi warga melalui fasilitasi akses permodalan kemitraan usaha serta bimbingan teknis pengolahan produk hasil ternak bernilai tambah.
Pemerintah juga menggulirkan edukasi gizi masif, di antaranya lewat kampanye konsumsi pangan asal ternak dan Gerakan Konsumsi Telur 2 Butir per Hari, serta mengintegrasikan dan memperkuat Program Makan Bergizi Gratis dan Program Keluarga Harapan.
Selain itu, dilakukan stabilisasi harga pangan hewani murah yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penetrasi pasar berkala dan program Hilirisasi Ayam Terintegrasi.
Lili menegaskan melalui integrasi program hulu ke hilir, Pemprov ingin memastikan komoditas peternakan yang berlimpah ini tidak hanya mengisi pasar luar daerah, tetapi menjadi sumber gizi utama bagi anak-anak dan keluarga di Lampung demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Bagi warga, langkah praktis yang bisa diambil antara lain menyisihkan anggaran harian atau mingguan untuk telur atau ayam sebagai menu rutin, misalnya 2 telur per hari untuk anak.
Lalu memanfaatkan program bantuan ternak atau kemitraan usaha jika tersedia di desa atau kelurahan, serta mengikuti kampanye gizi dari puskesmas dan dinas terkait dengan melibatkan sekolah dalam program makan bergizi.



