Papua dan Inggris Luncurkan Peta Jalan Kakao Berkelanjutan

Papua dan Inggris Luncurkan Peta Jalan Kakao Berkelanjutan
Papua dan Kedubes Inggris meluncurkan Peta Jalan Kakao Berkelanjutan lewat program CARE, mendorong agroforestri untuk kesejahteraan petani. (Foto: ist)

Pemerintah Provinsi Papua bersama Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia meluncurkan Peta Jalan Kakao Berkelanjutan Papua (Papua Sustainable Cocoa Roadmap) di Kampung Nambon, Distrik Kemtuk, Kabupaten Jayapura, Rabu (9/9/2026).

Dokumen ini disiapkan sebagai pedoman pengembangan sektor kakao Papua agar peningkatan produksi berjalan seiring dengan kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan.

Read More

Dukungan Inggris Lewat Program CARE Papua

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, hadir langsung dalam peluncuran tersebut. Kunjungan itu merupakan kunjungan resmi pertamanya ke Papua.

Ia menyebut peta jalan ini sebagai langkah penting untuk membangun sektor kakao Papua yang lebih tangguh, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

“Merupakan suatu kehormatan bagi saya melakukan kunjungan resmi pertama ke Papua dan melihat secara langsung potensi luar biasa yang dimiliki masyarakat Papua,” kata Dominic, Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

Dukungan Inggris disalurkan lewat program Cocoa Diversification and Agroforestry Approach (CARE) Papua, yang dirancang untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian sekaligus penerapan praktik budi daya kakao yang ramah lingkungan.

Wagub Papua Tekankan Empat Pilar Pengembangan

Wakil Gubernur Papua, Aryoko Rumaropen, menyambut baik kerja sama ini. Ia menjelaskan bahwa peta jalan akan menjadi pedoman pengembangan sektor kakao dengan memperhatikan empat aspek: produktivitas, kesejahteraan petani, peluang ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

“Peta jalan kakao berkelanjutan menjadi pedoman untuk mengembangkan sektor kakao dengan memperhatikan produktivitas, kesejahteraan petani, peluang ekonomi, dan kelestarian lingkungan,” kata Aryoko, Wakil Gubernur Papua.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan sinergi lintas pihak. “Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, petani, dan mitra pembangunan memang sangat diperlukan agar pengembangan kakao dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujarnya.

Agroforestri Jadi Strategi Inti Pengembangan Kakao

Dalam pendekatan CARE Papua, kakao tidak ditempatkan semata sebagai komoditas komersial. Sistem agroforestri yang diusung memasukkan pengelolaan kakao ke dalam sistem lahan yang tetap memperhatikan vegetasi dan fungsi ekologis di sekitarnya.

Melalui pendekatan ini, petani diposisikan sebagai pelaku utama dalam rantai nilai kakao Papua, bukan hanya penerima program dari pemerintah.

Baca juga:
* Saat Ghana Goyah, Indonesia Menguat: Peta Baru Kakao Dunia Mulai Bergeser

Tantangan Sesungguhnya Dimulai Setelah Peluncuran

Peluncuran peta jalan ini menjadi titik awal, bukan garis akhir. Keberhasilannya nanti akan diukur dari sejauh mana petani benar-benar merasakan peningkatan produktivitas dan manfaat ekonomi, sekaligus menjalankan praktik budi daya yang tetap menjaga lingkungan.

Dokumen ini baru akan berarti jika arah kebijakannya diterjemahkan menjadi perubahan nyata di tingkat kampung, bukan berhenti sebagai dokumen perencanaan.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *