Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas, Tiket Ludes 3 Jam

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 3
Sendratari Tanoh Krakatau kembali dipentaskan di Bukit Aslan, Bandar Lampung. Tiket Rp80 ribu ludes 3 jam, wisatawan luar provinsi berdatangan. (Foto: Yopie Pangkey)

Sendratari Tanoh Krakatau kembali dipentaskan Sanggar Gar Dancestory di Sunset Courtyard, Bukit Aslan, Bandar Lampung, Minggu (16/8/2026). Pementasan ini merupakan yang kedua, setelah pertunjukan perdana pada Sabtu (8/8/2026) mendapat sambutan besar dan terjual habis.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan yang mengangkat kisah letusan Krakatau 1883 tersebut.

Read More

Dari Story Instagram ke Tiket yang Ludes dalam Hitungan Jam

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 7
(Foto: Yopie Pangkey)

Respons penonton terhadap Tanoh Krakatau sebenarnya sudah terlihat sejak sehari setelah pementasan pertama. Pada Minggu (9/8/2026), Bukit Aslan bersama Gar Dancestory mengumumkan rencana pementasan kedua melalui Instagram Story.

Berdasarkan informasi dari pengelola, respons penonton berlangsung sangat cepat. Dalam waktu sekitar tiga jam setelah pengumuman, seluruh tiket seat ampiteater dengan harga Rp80 ribu langsung habis terjual. Saat itu masih tersedia seat festival dengan harga Rp60 ribu, namun tiket tersebut kemudian juga menyusul habis pada hari berikutnya.

Respons tersebut akhirnya membawa Tanoh Krakatau kembali hadir di Sunset Courtyard, Bukit Aslan, untuk pementasan kedua.

Wisatawan Lintas Provinsi dan Kehadiran Wakil Gubernur

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 6
(Foto: Yopie Pangkey)

Antusiasme itu kemudian terlihat langsung di lokasi. Penonton tidak hanya berasal dari Bandar Lampung dan daerah sekitarnya. Sejumlah wisatawan dari luar Lampung terpantau datang untuk menyaksikan pertunjukan, antara lain dari Samarinda, Jakarta, Banten, hingga Sumatera Selatan.

Di tengah pertunjukan, dengan panorama malam Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung sebagai latar, Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela juga tampak hadir menyaksikan langsung penampilan para seniman.

Kehadiran penonton dari berbagai daerah memperlihatkan bahwa kisah Krakatau, yang menjadi bagian penting dari sejarah kawasan Lampung dan Selat Sunda, masih memiliki daya tarik ketika dihadirkan melalui seni pertunjukan dan dipadukan dengan pengalaman wisata.

Mengingat Krakatau, Bukan Meratapi Tragedi

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 2
(Foto: Yopie Pangkey)

Di balik antusiasme penonton, Tanoh Krakatau membawa narasi sejarah yang kuat. Karya yang disutradarai Diantori, S.Sn. dari Sanggar Gar Dancestory itu terinspirasi dari peristiwa letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883, salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah tercatat di kawasan Selat Sunda.

Dentuman letusan saat itu terdengar hingga ribuan kilometer. Hujan abu menyelimuti langit, sementara gelombang tsunami menerjang wilayah pesisir Lampung dan Banten. Ribuan nyawa melayang, kampung-kampung hancur, dan kehidupan masyarakat berubah dalam waktu singkat.

Namun Tanoh Krakatau tidak berhenti pada kisah tentang kehancuran. Menurut Diantori, judul Tanoh Krakatau dipilih untuk mengingatkan kembali bagaimana dahsyatnya letusan Krakatau dan besarnya korban yang ditimbulkan.

Bagi dia, generasi sekarang maupun generasi berikutnya perlu tetap mengingat bahwa pernah terjadi sebuah peristiwa penting yang meninggalkan jejak besar dalam sejarah Lampung dan kawasan Selat Sunda.

Tetapi mengingat tragedi tersebut, baginya, bukan berarti harus terus larut dalam kesedihan.

“Kita di sini sekarang bukan ingin meratapi dan larut dalam kesedihan. Kita harus bangkit dan membangun Lampung menjadi lebih baik,” kata Diantori, sutradara Tanoh Krakatau.

Pesan tentang kebangkitan itu menjadi salah satu fondasi utama karya yang dibawakan Gar Dancestory. Krakatau dihadirkan sebagai bagian dari ingatan sejarah, tetapi pengalaman masyarakat setelah bencana juga menjadi bagian penting dari cerita.

Di balik kehilangan dan kehancuran, terdapat manusia yang berusaha bertahan, kembali menata kehidupan, dan mewariskan harapan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, Tanoh Krakatau tidak hanya berbicara tentang apa yang terjadi pada 27 Agustus 1883, tetapi juga tentang bagaimana manusia merespons sebuah tragedi. Dari tanah yang pernah porak-poranda, kehidupan kembali tumbuh. Dari kehilangan, muncul keteguhan. Dan dari sebuah peristiwa yang mengubah sejarah, lahir pesan tentang pentingnya bangkit.

Narasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk sendratari yang memadukan tari, musik, teater, dan visual. Perpaduan unsur artistik itu memungkinkan sejarah Krakatau tidak hadir sebagai rangkaian tanggal dan fakta semata, tetapi sebagai pengalaman dramatik yang mengajak penonton merasakan suasana tragedi sekaligus melihat harapan yang tumbuh setelahnya.

Melalui pertunjukan tersebut, Gar Dancestory mengajak penonton mengenang dahsyatnya letusan Krakatau, menghormati para korban, sekaligus merayakan ketangguhan masyarakat yang mampu bangkit dan menata kembali kehidupan.

Dengan pendekatan tersebut, sejarah lokal ditempatkan bukan hanya sebagai sesuatu yang perlu diketahui, tetapi juga sebagai cerita yang dapat terus dihidupkan melalui seni.

Bagi Diantori, pesan tersebut penting agar generasi mendatang tidak kehilangan hubungan dengan peristiwa besar yang pernah terjadi di tanah mereka.

Ketika Tanoh Krakatau Bertemu Bukit Aslan

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 9
(Foto: Yopie Pangkey)

Setelah membawa kisah Krakatau melalui panggung, pertunjukan tersebut menemukan ruang yang tidak kalah penting, yakni Bukit Aslan. Pementasan berlangsung di Sunset Courtyard, dengan panorama malam Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung menjadi bagian dari suasana pertunjukan.

Pilihan lokasi tersebut memberikan dimensi berbeda bagi Tanoh Krakatau. Penonton tidak hanya menyaksikan karya seni, tetapi juga berada dalam ruang terbuka yang mempertemukan pertunjukan dengan alam dan lanskap kota. Bagi pengelola Bukit Aslan, karakter tersebut menjadi salah satu alasan kolaborasi dengan Gar Dancestory dinilai memiliki nilai yang kuat.

Pengelola Bukit Aslan, Nicky, mengatakan manajemen cukup selektif dalam memilih mitra. Setiap kolaborasi yang hadir di Bukit Aslan diharapkan memiliki nilai dan visi yang sejalan.

Menurut Nicky, sikap selektif tersebut penting karena manajemen ingin setiap kolaborasi yang hadir tidak hanya menjadi kegiatan tambahan, tetapi memiliki cerita dan nilai yang dapat diberikan kepada pengunjung.

Ketika bertemu dengan Gar Dancestory dan mendengar gagasan untuk mengangkat narasi Tanoh Krakatau, manajemen melihat adanya peluang untuk mempertemukan alam, budaya, dan kreativitas dalam satu ruang.

Gar Dancestory, menurut Nicky, mampu meyakinkan manajemen bahwa kisah Tanoh Krakatau dapat dikemas dengan baik dan dihadirkan di Bukit Aslan.

Dari situlah muncul gagasan untuk menjadikan Bukit Aslan bukan hanya sebagai lokasi pementasan, tetapi sebagai ruang yang dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah karya.

“Bagi kami Bukit Aslan bukan hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga bisa menjadi rumah bagi karya yang membawa cerita dan budaya Lampung kepada masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan menarik,” kata Nicky, pengelola Bukit Aslan.

Dari Wisata Alam Menuju Ruang Budaya

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 4
(Foto: Yopie Pangkey)

Konsep tersebut sekaligus memperluas cara pandang terhadap destinasi wisata. Bukit Aslan tidak ingin hanya dikenal sebagai tempat untuk melihat pemandangan Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung.

Melalui kolaborasi dengan pelaku seni, tempat tersebut mencoba menghadirkan pengalaman wisata yang lebih lengkap. Wisatawan dapat datang untuk menikmati panorama, tetapi pada saat yang sama mendapatkan pengalaman budaya melalui pertunjukan seni.

Nicky mengatakan kolaborasi dengan Gar Dancestory memang menjadi bagian dari misi Bukit Aslan untuk memperkenalkan dan mendekatkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas. Wisata alam, menurut dia, tidak harus berhenti pada pengalaman melihat pemandangan.

Melalui pertunjukan seni, pengunjung dapat memperoleh pengalaman yang lebih lengkap dan membawa pulang cerita dari tempat yang mereka kunjungi.

“Kami ingin menunjukkan bahwa wisata alam tidak hanya sebatas menikmati pemandangan, tetapi bisa dikembangkan menjadi sebuah pengalaman yang lebih lengkap,” kata Nicky.

Perpaduan alam, budaya, dan seni pertunjukan tersebut diharapkan menciptakan alasan baru bagi wisatawan untuk datang ke Bukit Aslan. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati lanskap Kota Bandar Lampung dan Teluk Lampung, tetapi juga dapat menyaksikan karya seni yang membawa cerita tentang sejarah dan identitas Lampung.

Dalam konteks tersebut, Tanoh Krakatau menjadi contoh bagaimana sebuah destinasi wisata dapat sekaligus berfungsi sebagai ruang budaya. Karya seni yang mengangkat sejarah lokal dipertemukan dengan sebuah destinasi wisata, lalu menarik perhatian penonton dari berbagai daerah.

Antusiasme yang terlihat sejak pengumuman pementasan kedua memperkuat peluang tersebut, seat ampiteater seharga Rp80 ribu habis dalam sekitar tiga jam, kemudian tiket festival Rp60 ribu menyusul habis pada hari berikutnya, sementara pada malam pementasan itu sendiri wisatawan dari Samarinda, Jakarta, Banten, dan Sumatera Selatan datang langsung untuk menyaksikan karya tersebut.

Dengan demikian, cerita tentang Krakatau yang berakar pada sejarah kawasan Selat Sunda ternyata dapat menjangkau penonton yang lebih luas ketika dikemas melalui seni dan ditempatkan dalam pengalaman wisata yang berbeda.

Evaluasi di Balik Pementasan Kedua

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 5
(Foto: Yopie Pangkey)

Namun, keberhasilan pementasan pertama dan tingginya permintaan tiket tidak membuat Bukit Aslan sekadar mengulang pertunjukan sebelumnya. Manajemen justru menggunakan pengalaman pementasan pertama sebagai bahan evaluasi.

Nicky mengatakan, setelah pertunjukan pertama, manajemen tidak hanya melihat dari sisi keberhasilan penjualan tiket atau status sold out. Mereka juga mencoba melihat apa saja yang masih kurang dari sudut pandang pengunjung. Pengalaman tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki pementasan kedua.

Salah satu penyesuaian dilakukan dengan mengurangi jumlah penonton agar suasana pertunjukan lebih nyaman. Manajemen juga mengatur batas antara area penonton yang duduk dan berdiri. Sejumlah elemen pendukung pertunjukan turut dievaluasi, termasuk penggunaan kembang api pada pementasan sebelumnya.

Evaluasi juga dilakukan terhadap pertunjukan Tanoh Krakatau itu sendiri, sehingga pementasan kedua tidak hanya menjadi pengulangan teknis dari pementasan pertama.

“Yang paling penting bagi kami adalah penjiwaan terhadap pengalaman pengunjung,” kata Nicky.

Menurut dia, tujuan evaluasi tersebut adalah memastikan penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi benar-benar mendapatkan pengalaman yang nyaman dan berkesan.

“Pertunjukan kedua ini bukan sekadar mengulang pertunjukan sebelumnya, tetapi merupakan hasil dari evaluasi dan pengalaman yang kami dapatkan dari pertunjukan pertama,” kata Nicky.

Pendekatan tersebut membuat pementasan kedua memiliki cerita tersendiri. Di satu sisi, tingginya permintaan tiket menunjukkan adanya antusiasme terhadap karya. Di sisi lain, penyelenggara tetap berusaha menjaga kualitas pengalaman dengan tidak semata-mata mengejar jumlah penonton.

Panggung Terbuka untuk Karya Berikutnya

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 10
(Foto: Yopie Pangkey)

Keberhasilan kolaborasi Tanoh Krakatau juga membuka kemungkinan bagi Bukit Aslan untuk terus menjadi ruang bagi karya seni pertunjukan lainnya. Nicky mengatakan manajemen terbuka menjadikan kolaborasi seperti ini sebagai agenda yang berkelanjutan selama kondisi dan cuaca memungkinkan.

Bukit Aslan juga terbuka terhadap berbagai ide maupun karya seni pertunjukan lainnya, namun keterbukaan tersebut tetap disertai pertimbangan mengenai kesesuaian visi dan potensi kolaborasi antarpihak.

Bagi manajemen, yang terpenting bukan sekadar menghadirkan acara sebanyak mungkin, tetapi menemukan mitra yang dapat saling melengkapi dan memberikan nilai baru bagi pengunjung.

“Kami juga terbuka terhadap berbagai ide maupun karya seni pertunjukan lainnya. Bagi kami, yang terpenting adalah bisa menemukan mitra yang saling melengkapi dan memiliki visi yang sejalan dengan Bukit Aslan, sehingga kolaborasi yang hadir benar-benar memberikan nilai dan pengalaman baru bagi pengunjung,” kata Nicky.

Harapan tersebut membuat pementasan Tanoh Krakatau dapat dilihat sebagai bagian dari proses yang lebih panjang. Seni pertunjukan tidak hanya hadir sebagai hiburan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem wisata dan budaya di Lampung.

Di sisi lain, destinasi wisata tidak hanya menjadi tempat bagi pengunjung untuk menikmati panorama, tetapi juga dapat menyediakan ruang bagi seniman untuk menyampaikan gagasan, sejarah, dan cerita kepada publik.

Nicky berharap Bukit Aslan dapat ikut mengambil peran dalam perkembangan tersebut, bukan hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai salah satu ruang yang mendukung perkembangan seni dan budaya di Lampung.

Baca juga:
* Tanoh Krakatau, Sendratari yang Ajak Warga Merawat Tanah Lampung

Dari Tragedi Menjadi Harapan

Sendratari Tanoh Krakatau Kembali Pentas Tiket Ludes 3 Jam - Gar Dancestory Bukit Aslan - Yopie Pangkey - 1
Sutradara, Diantori,;
dan Koreografer, Heni Purnama Sari, di akhir pementasan. (Foto: Yopie Pangkey)

Pada akhirnya, kekuatan Tanoh Krakatau terletak pada kemampuannya mempertemukan masa lalu dengan masa kini. Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883 dihadirkan kembali bukan semata untuk mengingatkan tentang kehancuran, tetapi untuk menyampaikan pesan tentang ketangguhan manusia.

Di panggung Bukit Aslan, sejarah itu bertemu dengan tari, musik, teater, dan visual. Di belakang panggung, terbentang Teluk Lampung dan cahaya Kota Bandar Lampung. Sementara di hadapan panggung, penonton datang dari berbagai tempat untuk menyaksikan sebuah kisah yang berakar dari sejarah Lampung dan kawasan Selat Sunda. Kehadiran mereka menjadi bagian dari perjalanan baru Tanoh Krakatau.

Pementasan kedua ini pun berlangsung kurang dari dua minggu menjelang peringatan 143 tahun letusan Krakatau pada 27 Agustus mendatang, momen yang membuat kisah ini terasa lebih dekat dengan kalender ingatan publik Lampung.

Dari pementasan pertama yang sold out, pengumuman pertunjukan kedua yang langsung disambut pembelian tiket, hingga kedatangan wisatawan lintas daerah, karya tersebut menunjukkan bahwa cerita lokal dapat menemukan penontonnya ketika dikemas dengan pendekatan yang tepat.

Lebih dari itu, Tanoh Krakatau membawa pesan bahwa sejarah tidak harus selalu disampaikan dalam ruang formal. Sejarah bisa hadir di panggung terbuka, di tengah destinasi wisata, ditemani panorama Teluk Lampung, dan diterjemahkan melalui gerak tubuh, musik, cahaya, serta ekspresi para seniman.

Dari kisah tentang Krakatau yang pernah meninggalkan luka besar, muncul pesan yang justru jauh lebih panjang, bahwa setiap akhir dapat menjadi awal baru, dan dari setiap luka selalu ada harapan untuk tumbuh kembali.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *