Tanoh Krakatau, Sendratari yang Ajak Warga Merawat Tanah Lampung

Tanoh Krakatau Sendratari yang Ajak Warga Merawat Tanah Lampung - Diantory Gardance - 1
Pertunjukan sendratari Tanoh Krakatau oleh Sanggar Gar DanceStory di Bukit Aslan, Lampung. (Foto: Sanggar Gar DanceStory)

Sanggar Gar DanceStory mementaskan sendratari “Tanoh Krakatau” di Bukit Aslan, Lampung, mengangkat hubungan manusia dengan tanah, alam, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat Lampung. Karya ini disutradarai Diantori, S.Sn., dikoreografi oleh Heni Purnama Sari, S.Sn., dan digarap musiknya oleh Tofik Qurohman, S.Pd., dengan dukungan Tim Solid Bukit Aslan.

Lewat gerak, musik, dan dramatik panggung, “Tanoh Krakatau” tidak hadir sekadar sebagai tontonan. Karya ini menjadikan properti dan koreografi sebagai bahasa untuk bicara soal rasa memiliki dan tanggung jawab menjaga tanah tempat manusia berpijak, khususnya Lampung.

Read More

Bukit Aslan Jadi Panggung Ekspresi Seni Lampung

Bukit Aslan, yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata, kini mulai membangun ekosistem budaya dengan memberi ruang bagi seniman untuk mempresentasikan karya mereka.

Kolaborasi antara Bukit Aslan dan Sanggar Gar DanceStory menjadi contoh bagaimana ruang wisata bisa berkembang menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, seniman, dan gagasan kreatif.

Bagi tim Bukit Aslan, memberi ruang kepada seniman adalah bentuk nyata komitmen melestarikan dan menghidupkan kebudayaan Lampung lewat ruang publik yang dekat dengan masyarakat.

Kehadiran “Tanoh Krakatau” di tempat ini juga menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi lintas pihak, mulai dari seniman, lembaga kebudayaan, dunia usaha, pengelola destinasi wisata, hingga komunitas.

Krakatau, dari Letusan Alam Jadi Simbol Renungan

Tanoh Krakatau Sendratari yang Ajak Warga Merawat Tanah Lampung - Diantory Gardance - 2
(Foto: Sanggar Gar DanceStory)

Karya ini lahir dari kegelisahan sekaligus kecintaan terhadap bumi Lampung. Krakatau dalam sendratari ini tidak hanya dipandang sebagai fenomena alam, melainkan simbol kekuatan, kehancuran, dan harapan untuk membangun kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.

Lewat perjalanan dramatik para tokohnya, penonton diajak masuk ke ruang perenungan: apa yang terjadi jika manusia kehilangan rasa memiliki terhadap tanahnya sendiri, dan apa yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Tanoh Krakatau” dibangun dari perpaduan koreografi, musik, teater, dan visual artistik yang menyatu menjadi satu cerita, berbicara bukan hanya soal masa lalu, tetapi juga tanggung jawab manusia hari ini terhadap masa depan.

Tiga Tangan di Balik Gerak dan Musik Panggung

Sutradara Diantori membangun alur dan bahasa dramatik pertunjukan. Koreografer Heni Purnama Sari menerjemahkan gagasan itu lewat tubuh dan gerak para penari. Sementara komposer Tofik Qurohman memperkuat atmosfer cerita lewat musik yang menjadi napas keseluruhan pertunjukan.

Bagi Sanggar Gar DanceStory, “Tanoh Krakatau” adalah bagian dari upaya terus menciptakan karya yang berangkat dari identitas, sejarah, dan persoalan lokal, namun tetap membawa pesan universal yang bisa dirasakan masyarakat luas.

Baca juga:
* Sanggar Gardancestory Hadirkan “The Beginning of Bloom”, Ruang Tumbuh Penari Muda Lampung

Pesan yang Ingin Ditinggalkan untuk Generasi Berikutnya

Tanah, dalam pandangan karya ini, bukan sekadar tempat berdiri. Tanah adalah tempat manusia berasal, tempat kehidupan tumbuh, dan tempat masa depan diwariskan.

Lewat “Tanoh Krakatau”, Sanggar Gar DanceStory bersama Bukit Aslan mengajak masyarakat kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mencintai tanah tempat kita berpijak, sudahkah kita menjaganya, dan apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi setelah kita.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *