TransNusa Jembatan Udara Lampung–Malaysia (1): Perjuangan dan Kolaborasi

1 - TransNusa Jembatan Udara Lampung–Malaysia - Perjuangan dan Kolaborasi
(Foto: TransNusa.co.id)

Oleh Mahendra Utama | Pemerhati Pembangunan

Konektivitas udara bukan sekadar infrastruktur, melainkan prasyarat pertumbuhan. Francois Perroux dalam Growth Pole Theory menegaskan pembangunan tidak muncul serentak, melainkan terkonsentrasi pada kutub-kutub pertumbuhan.

Read More

Penerbangan langsung Lampung–Kuala Lumpur yang diresmikan 24 Agustus 2026 adalah kutub itu. TransNusa C909 melayani tujuh kali seminggu, membawa Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sebagai guest of honour dalam penerbangan perdana.

Perjuangan tak instan. Bandara Radin Inten II sempat kehilangan status internasional pada 2024, lalu dipulihkan melalui KM 37 Tahun 2025.

Gubernur Mirza konsisten mendorong rute ini. “Karena itu, kami mendorong penerbangan langsung ini agar lebih memudahkan masyarakat sekaligus mendukung sektor pariwisata Lampung,” ujarnya saat rapat dengan TransNusa.

CEO TransNusa Datuk Bernard Francis menyebut kerja sama ini hasil penjajakan dua tahun, melihat 9,5 juta jiwa penduduk Lampung sebagai basis pasar riil.

Apresiasi patut diberikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang menjadikan konektivitas sebagai agenda strategis, bukan sekadar retorika.

Kepada CEO TransNusa yang berani membuka koridor pristine tanpa jaminan load factor penuh. Kepada Angkasa Pura yang menyiapkan terminal internasional.

Kepada Imigrasi, Bea Cukai, dan Karantina yang memastikan gerbang lintas negara berjalan tanpa hambatan. Tanpa kolaborasi lintas institusi ini, penerbangan perdana hanyalah wacana.

#TransNusa #LampungKualaLumpur #KonektivitasUdara #GrowthPole #MahendraUtama

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *