Oleh Mahendra Utama
Krisis Kemasan di Tengah Kelimpahan Kedelai
Ironi terjadi di tengah krisis ini. Di satu sisi, harga kedelai impor sebagai bahan baku utama justru stabil di angka Rp10.000 per kilogram, bahkan di bawah harga acuan pemerintah.
Stok kedelai di gudang PT Budi Andalan Group, misalnya, masih mencapai 500 ton. Artinya, dari sisi bahan baku, industri tahu dan tempe Lampung masih aman.
Namun, biaya kemasan yang melonjak drastis mengancam untuk menggerus keuntungan dan memaksa kenaikan harga jual.
Fenomena ini sejalan dengan teori cost-push inflation, di mana kenaikan harga suatu komoditas (dalam hal ini, plastik) disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, bukan karena tingginya permintaan.
Seperti dijelaskan M. Zimmi Skil, kenaikan ini berakar dari memburuknya situasi geopolitik, terutama ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Hal serupa juga diakui oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, yang menyebutkan bahwa tekanan terhadap industri plastik nasional tak lepas dari eskalasi konflik global yang berdampak pada pasokan nafta.
Bahkan, harga minyak dunia sempat menembus level psikologis di atas US$110 per barel akibat penutupan jalur strategis tersebut.
Daun Pisang: Nostalgia yang Sarat Manfaat
Solusi yang ditawarkan Disperindag Lampung kembali ke daun pisang bukanlah sekadar nostalgia semata.
Dari perspektif ekonomi, daun pisang dinilai lebih murah dan mudah didapat, terutama di daerah agraris seperti Lampung yang terkenal dengan perkebunan pisangnya.
Lebih dari itu, dari sisi kesehatan dan lingkungan, langkah ini adalah sebuah terobosan.
Penggunaan daun pisang sebagai kemasan pangan memiliki nilai tambah yang signifikan.
Secara kesehatan, daun pisang lebih aman karena tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya seperti Bisphenol A (BPA) yang sering ditemukan pada plastik.
Seperti diingatkan oleh BPOM, penggunaan kemasan yang tidak tepat dapat melepaskan zat kimia berbahaya yang berkontribusi pada risiko penyakit kronis.
Secara lingkungan, daun pisang adalah bahan yang 100 persen dapat terurai secara alami (biodegradable), sebuah kontras yang sangat tajam dengan plastik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai.
Namun, tantangan tetap ada. Imbauan ini perlu diikuti dengan pendampingan teknis, terutama dalam hal rantai pasok daun pisang yang skalanya masih tradisional.
Pengalaman perajin tempe di Cimahi menunjukkan bahwa opsi beralih ke daun pisang dinilai tidak realistis karena justru menambah biaya operasional.
Oleh karena itu, inovasi seperti menciptakan mesin pemroses daun pisang skala home industri menjadi sebuah keharusan jika kebijakan ini ingin sukses diadopsi secara massal.
Baca juga:
* Lampung Butuh Badan Usaha Waste to Energy: Solusi Sampah 4.719 Ton Per Hari
Kesimpulan
Kenaikan harga plastik adalah ujian sekaligus peluang. Di saat rantai pasok global terguncang, kearifan lokal muncul sebagai pilihan yang rasional dan berkelanjutan.
Disperindag Lampung telah menunjukkan bahwa solusi untuk krisis tidak selalu harus datang dari kebijakan makro yang rumit, tetapi bisa dimulai dari langkah sederhana dan membumi.
Kini, tugas selanjutnya adalah memastikan bahwa imbauan ini dapat dijalankan dengan nyaman oleh para perajin, sehingga produk tahu dan tempe khas Lampung tidak hanya tetap terjangkau, tetapi juga menjadi pionir dalam gerakan ekonomi hijau.
—
Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#HargaPlastik #UMKMLampung #KemasanRamahLingkungan #DaunPisang #EkonomiHijau



