Catatan Redaksi:
Artikel ini pertama kali ditulis oleh penulis dan dipublikasikan di media daring yang kini tidak lagi aktif. Artikel ini dipublikasikan ulang di PublikasiLampung.id untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan publik dan mendokumentasikan praktik baik pengelolaan hutan di Lampung.
Oleh: Tim Redaksi PublikasiLampung.id
Diperbarui: Rabu, 25 Februari 2026
Pesawaran — Suara gemerisik daun, aroma tanah basah, dan kicau burung menyambut siapa pun yang memasuki kawasan hutan lindung di Desa Banjaran.
Di balik keteduhan tajuk pohon yang berlapis, hutan ini tak hanya berfungsi sebagai penjaga ekosistem, tetapi juga ruang belajar dan sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar.
Di sela pepohonan, sejumlah petani tampak memanen kapulaga. Rempah bernilai ekonomi tinggi itu tumbuh di lapisan bawah, berdampingan dengan cengkeh dan kakao di tajuk tengah.
Sementara durian, karet, dan pohon-pohon tinggi lainnya membentuk kanopi atas. Pola berlapis ini menjadi ciri khas agroforestri yang diterapkan di kawasan hutan lindung Register 20 Banjaran.
Kawasan ini dikenal sebagai Hutan Pendidikan Desa Banjaran, dikelola oleh Gapoktanhut Pujo Makmur. Pengelolaan tersebut menjadikan hutan lindung tetap lestari, sekaligus produktif secara ekonomi.
Mengintegrasikan Ekologi dan Ekonomi

Ketua Gapoktanhut Pujo Makmur, Maryadi, menjelaskan bahwa pengelolaan hutan dilakukan dengan prinsip keberlanjutan yang mengintegrasikan nilai ekologi dan ekonomi.
Pola agroforestri dikembangkan melalui stratifikasi tajuk dengan berbagai jenis Multi-Purpose Tree Species (MPTS).
“Kapulaga, cengkeh, kakao, durian, dan karet dipanen bergantian sepanjang tahun. Pola ini meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga fungsi ekologis hutan,” ujar Maryadi, Sabtu (4/1/2025).
Kapulaga menjadi salah satu komoditas andalan. Selain bernilai jual tinggi di pasar lokal, rempah ini juga memiliki potensi pasar ekspor.
Sementara pohon-pohon besar seperti durian dan karet berfungsi sebagai peneduh alami yang melindungi tanah dari erosi dan menjaga keseimbangan mikroklimat kawasan.
Penopang Ketahanan Pangan, Air, dan Energi
Lebih dari sekadar penghasil hasil hutan bukan kayu, hutan lindung Banjaran berperan penting dalam menopang ketahanan pangan, air, dan energi di Lampung.
Aliran air yang bersumber dari kawasan ini menjadi penyuplai utama irigasi persawahan di desa-desa hilir.
“Selain hasil pertanian, kawasan ini memiliki potensi mikrohidro. Air dari hutan ini menopang irigasi dan kehidupan masyarakat di wilayah hilir,” kata Maryadi.
“Hutan ini adalah sumber daya strategis bagi ketahanan pangan dan energi,” ia menambahkan.
Sebagai bagian dari program Perhutanan Sosial, kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai laboratorium pendidikan.
Mahasiswa, peneliti, pelajar, hingga masyarakat umum datang untuk mempelajari praktik agroforestri, tata kelola kelembagaan, pengelolaan kawasan, dan pengembangan usaha berbasis hutan.
“Banyak yang datang belajar langsung. Bahkan ada petani hutan dari daerah lain yang sengaja menginap berhari-hari di sini,” ungkapnya.
Dukungan Pemerintah Daerah
Pengelolaan hutan lindung Desa Banjaran berada di bawah binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Pesawaran dan mendapat dukungan dari Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Yanyan Ruchyansyah, menilai praktik agroforestri yang diterapkan Gapoktanhut Pujo Makmur sebagai bukti keberhasilan Perhutanan Sosial.
“Keberhasilan hutan lindung Desa Banjaran menunjukkan bahwa Perhutanan Sosial bukan hanya solusi konservasi, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Menurut Yanyan, dampak ekologis dari pengelolaan ini terlihat nyata, mulai dari terjaganya ketersediaan air tanah, menurunnya erosi, hingga berfungsinya sistem irigasi yang mendukung pertanian di wilayah hilir.
Pemerintah daerah, lanjut Yanyan, berkomitmen terus memberikan pembinaan dan pendampingan kepada kelompok perhutanan sosial, termasuk dukungan sarana-prasarana pascapanen serta fasilitasi akses pasar agar hasil hutan masyarakat memiliki nilai tambah.
Model Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Apa yang dilakukan masyarakat Desa Banjaran menunjukkan bahwa hutan lindung tidak harus berseberangan dengan kesejahteraan.
Melalui pengelolaan berbasis agroforestri, hutan tetap menjalankan fungsi ekologisnya sekaligus menjadi sumber penghidupan dan ruang belajar.
Model ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan pangan, energi, dan air dapat dicapai melalui pengelolaan hutan yang tepat, dengan masyarakat sebagai aktor utama.
Dari Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran, praktik baik ini memberi pelajaran penting: menjaga hutan dan meningkatkan kesejahteraan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dapat berjalan beriringan.



