Jalan Dibangun, Ekosistem Menyusul? Pelajaran Gigi Hiu untuk Pariwisata Lampung

Jalan Dibangun Ekosistem Menyusul Pelajaran Gigi Hiu untuk Pariwisata Lampung - Budhi Marta Utama - 1
Pengalaman Gigi Hiu sejak 2011 menunjukkan pariwisata bisa tumbuh tanpa infrastruktur. Lalu, apa sebenarnya “ekosistem” yang dimaksud pemerintah? (Foto arsip: Budhi Marta Utama)
Oleh: Yopie Pangkey

Pembangunan ruas jalan Simpang Teluk Kiluan–Simpang Umbar di Kabupaten Tanggamus menandai satu hal yang jelas: keseriusan pemerintah dalam membuka keterisolasian kawasan pesisir. Akses yang selama ini menjadi kendala utama menuju destinasi wisata seperti Teluk Kiluan dan Pantai Gigi Hiu perlahan mulai dibenahi.

Namun di balik itu, muncul satu pertanyaan mendasar: ketika akses mulai terbuka, apakah ekosistem pariwisata sudah benar-benar siap?

Read More

Infrastruktur sebagai Fondasi, Bukan Tujuan

Tidak dapat dipungkiri, jalan adalah prasyarat. Tanpa konektivitas, potensi sebesar apa pun akan tetap terkurung. Dalam konteks ini, langkah Pemerintah Provinsi Lampung patut ditempatkan sebagai fondasi awal yang penting.

Namun, pembangunan jalan sejatinya baru menyentuh satu sisi dari sistem yang jauh lebih kompleks. Pariwisata tidak hanya bergerak oleh akses, melainkan oleh keterhubungan antara berbagai komponen: pelaku usaha lokal, produk unggulan, layanan, hingga pasar.

Di titik inilah istilah “ekosistem” menjadi krusial dan sekaligus menuntut kejelasan implementasi.

Ekosistem yang Masih Normatif

Dalam rilis resmi, penguatan “ekosistem pariwisata” disebut sebagai bagian dari strategi besar pembangunan daerah. Namun, seperti banyak narasi kebijakan lainnya, istilah ini masih berada pada level konseptual.

Belum tergambar secara utuh:

  • siapa penggerak utama di tingkat tapak
  • bagaimana hubungan antar sektor dibangun
  • serta intervensi konkret di luar pembangunan fisik

Tanpa penjabaran tersebut, ekosistem berisiko menjadi jargon yang kuat secara retorik, tetapi lemah secara operasional.

Pelajaran dari Pengalaman Lapangan

Pengalaman di lapangan justru menunjukkan bahwa embrio ekosistem pariwisata dapat tumbuh bahkan dalam keterbatasan.

Pada 2011, saya bersama Budhi Marta Utama dan Rudi Huang mengeksplorasi kawasan Pantai Pegadungan di Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus. Tempat ini kemudian dikenal luas sebagai Gigi Hiu, setelah penamaan yang diperkenalkan oleh Budhi Marta Utama.

Dalam kondisi akses yang masih sulit dan fasilitas yang nyaris tidak tersedia, kawasan ini mulai menarik minat komunitas fotografi.

Inisiatif kemudian berkembang menjadi paket wisata fotografi dengan nilai sekitar Rp4 juta per orang untuk durasi tiga hari dua malam, dengan konsep berkemah di lokasi.

Menariknya, meski dalam skala kecil, sekitar 1 hingga 10 orang per perjalanan, aktivitas ini sudah mulai menciptakan perputaran ekonomi lokal.

Jalan Dibangun Ekosistem Menyusul Pelajaran Gigi Hiu untuk Pariwisata Lampung - Budhi Marta Utama - 2
Suguhan makan siang untuk fotografer dari berbagai penjuru nusantara. (Foto arsip Budhi Marta Utama)

Selama kegiatan berlangsung, berbagai layanan masyarakat setempat terlibat, mulai dari porter, pemandu lokal, ojek, hingga penyedia makanan tradisional khas Kelumbayan.

Dengan demikian, pengeluaran wisatawan tidak berhenti pada biaya perjalanan, tetapi langsung mengalir ke masyarakat.

Dalam konteks ini, embrio ekosistem pariwisata telah terbentuk secara organik. Ditopang oleh aktivitas nyata dan distribusi manfaat, meski tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

Selain itu, perkembangan kawasan ini juga tidak terlepas dari kedekatannya dengan Teluk Kiluan, yang lebih dulu dikenal sebagai destinasi ekowisata, terutama untuk atraksi lumba-lumba.

Keterhubungan ini menciptakan pola kunjungan yang saling melengkapi. Wisatawan yang datang ke Teluk Kiluan kerap melanjutkan perjalanan ke Pantai Gigi Hiu, dan sebaliknya. Sehingga memperpanjang durasi tinggal sekaligus memperluas pergerakan ekonomi di kawasan.

Dalam konteks ini, daya tarik Gigi Hiu tidak tumbuh secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari jaringan destinasi yang saling menguatkan.

Dari Destinasi ke Rantai Nilai

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pariwisata yang berkelanjutan tidak semata dibangun dari destinasi dan dari view cantik, melainkan dari rantai nilai yang utuh.

Di wilayah pesisir Lampung, fondasi tersebut sebenarnya telah ada:

  • perikanan tangkap
  • pertanian dan perkebunan
  • serta aktivitas perdagangan lokal

Pendekatan yang dapat dipertimbangkan ke depan adalah menempatkan pariwisata sebagai lapisan akhir dari proses ekonomi tersebut.

Dengan demikian, kunjungan wisata tidak hanya menghasilkan aktivitas sesaat, tetapi juga mendorong konsumsi produk lokal dan memperpanjang perputaran ekonomi di tingkat desa.

Baca juga:
* Lampung dan Tantangan Industrialisasi Pariwisata

Menjaga Momentum, Menghindari Ketimpangan

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur tetap menjadi momentum penting yang tidak dapat diabaikan. Konektivitas yang lebih baik akan membuka peluang baru, baik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal.

Namun, tanpa desain yang tepat, peningkatan akses juga berpotensi menimbulkan ketimpangan. Di mana manfaat ekonomi lebih banyak terserap oleh pelaku dari luar kawasan.

Karena itu, pengembangan pariwisata perlu diarahkan secara bertahap dan terukur, dengan memastikan keterlibatan pelaku lokal tetap menjadi prioritas.

Orkestrasi, Bukan Sekadar Peran

Agar narasi “ekosistem” tidak berhenti sebagai konsep, tantangan utamanya bukan sekadar pada peran pemerintah daerah, melainkan pada kemampuan mengorkestrasi berbagai aktor dan sektor dalam satu arah yang konsisten.

Dalam konteks pariwisata Lampung, persoalannya bukan kekurangan aktivitas, melainkan belum terhubungnya berbagai inisiatif yang sudah berjalan.

Di sinilah pemerintah berfungsi sebagai pengarah sistem: memastikan intervensi di infrastruktur, ekonomi lokal, investasi, dan promosi bergerak dalam satu tujuan.

Karena pada akhirnya, pariwisata bukan sektor tunggal, melainkan titik temu dari berbagai aktivitas ekonomi yang perlu dirangkai menjadi satu perjalanan yang utuh.

    Baca juga:
    * Mengorkestrasi Pariwisata Lampung: Tantangan Kepemimpinan Kebijakan

    Menata Arah Sejak Awal

    Pembangunan jalan menuju kawasan pesisir Tanggamus membuka akses dan menciptakan peluang yang selama ini tertahan.

    Namun pengalaman di Gigi Hiu Pantai Pegadungan menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur. Aktivitas wisata sudah lebih dulu muncul, bahkan dalam keterbatasan.

    Hal ini menegaskan bahwa konektivitas membuka pintu, tetapi tidak menentukan arah. Tantangannya adalah memastikan peningkatan akses diikuti tujuan yang jelas: bukan sekadar menambah kunjungan, tetapi membentuk ekosistem ekonomi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

    Baca juga:
    * Banyak Destinasi, Minim Cerita Perjalanan: PR Pariwisata Lampung

    Catatan untuk Pengembangan Desa Wisata

    Pendekatan serupa juga relevan dalam pengembangan desa wisata. Alih-alih membangun dari nol, penguatan seharusnya diarahkan pada desa-desa yang telah memiliki aktivitas ekonomi yang berjalan. Baik di sektor pertanian, perikanan, maupun perdagangan lokal.

    Dengan fondasi tersebut, pariwisata tidak hadir sebagai beban baru, melainkan sebagai penguat dari rantai nilai yang sudah ada.

    Produk lokal telah tersedia, pelaku usaha telah terbentuk, dan interaksi ekonomi sudah berlangsung. Pariwisata kemudian berfungsi memperluas pasar, bukan menciptakan aktivitas yang sepenuhnya baru.

    Pendekatan ini akan lebih efisien, juga meningkatkan peluang keberlanjutan.

    Karena pada akhirnya, desa wisata yang bertahan bukan yang paling banyak dibangun, melainkan yang paling terhubung dengan kehidupan ekonomi masyarakatnya. Membentuk ekosistem yang benar-benar hidup.


    Penulis: Yopie Pangkey
    Pemerhati Pariwisata Lampung & Travel Blogger

    #PariwisataLampung #EkosistemPariwisata

    ---

    Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

    Related posts

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *