Oleh Mahendra Utama
Membaca Harapan dari Perjalanan ke Bumi Ragab Begawe Caram
Perjalanan dinas di 24 April yang mulai menepi itu bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ketika pukul tiga belas lewat dua puluh kami beranjak dari Kantor Perindag Provinsi Lampung menuju Kabupaten Mesuji Bumi Ragab Begawe Caram yang sarat makna ada denyut optimisme yang sulit dipungkiri. Bersama Kadis Perindag Lampung Zimmi Skil dan TPP Gubernur Lampung Ardiansyah, kami membawa lebih dari sekadar surat tugas; kami membawa mandat untuk masa depan desa.
Tujuan kami terang: menyelaraskan visi DesaKu Maju, program unggulan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, dengan realitas lapangan di Kabupaten Mesuji.
Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, menjadi saksi bisu pertemuan antara Dinas Perindag Provinsi Lampung dengan jajaran Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Mesuji, Camat, Kepala Desa, serta Ketua dan anggota Gapoktan.
Di lokasi Rice Milling Unit (RMU) sederhana itu, hiruk-pikuk wacana hilirisasi pertanian mulai menemukan bentuknya yang paling konkret.
Desa Bukan Penonton: Teori Perubahan dari Pinggiran
Ekonom pembangunan desa, John Friedmann, dalam model agropolitan development-nya menegaskan bahwa pembangunan yang berpusat di kota hanya akan melanggengkan ketimpangan.
Sebaliknya, desa harus diposisikan sebagai pusat pertumbuhan baru dengan mengoptimalkan sumber daya lokal.
Visi DesaKu Maju yang dicanangkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal persis berada di jalur ini: “Desa tak sekadar menjadi penonton, namun pusat ekonomi yang mandiri dan berjaya.”
Namun, kemandirian desa tidak lahir dari slogan. Diperlukan instrumen yang terukur. Hilirisasi pertanian yang oleh Michael Porter dalam teori value chain-nya disebut sebagai strategi menangkap nilai tambah di setiap mata rantai produksi menjadi senjata utama.
Di Mesuji, komoditas pertanian selama ini masih keluar dalam bentuk mentah. Padi dijual sebagai gabah kering, jagung sebagai pipilan, dan karet sebagai lateks kebun.
Nilai tambah yang hilang bukan sekadar angka di neraca, melainkan peluang kerja dan kesejahteraan yang melayang ke kabupaten lain.
Sinergi yang Terjalin di Tanjung Mas Makmur
Pertemuan di Desa Tanjung Mas Makmur bukanlah seremoni kosong. Di jalan khusus pertanian, Kabid Perdagangan dan Kabid Perindustrian dari dua level pemerintahan (provinsi dan kabupaten) berdiri berdampingan dengan Gapoktan.
Diskusi tidak bertele-tele: UMKM apa yang sudah berjalan? Komoditas apa yang potensial untuk diolah? Kendala permodalan dan teknologi apa yang menghadang?
Teori aglomerasi yang dikembangkan Alfred Weber menyebutkan bahwa kedekatan fisik antara pelaku usaha, pemasok, dan pembeli akan menciptakan efisiensi kolektif.
Di Mesuji, sinergi vertikal ini perlu dibangun secara sadar. Bukan hanya antar-desa, tetapi antara provinsi dan kabupaten.
Pemerintah provinsi membawa kebijakan dan akses pasar; pemerintah kabupaten membawa data dan potensi lokal; Gapoktan membawa tanah, tenaga, dan komoditas. Ketiganya harus seperti simpul yang tak bisa dilepaskan.
“Hilirisasi tidak akan berjalan jika petani hanya dianggap sebagai pemasok bahan baku,” kata Achmad Suryana, guru besar pertanian IPB University, dalam sebuah risetnya tentang pembangunan perdesaan. “Mereka harus menjadi subjek utama dari proses pengolahan itu sendiri.”
Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan
Meski optimisme membuncah, kejujuran akademik menuntut kita melihat cacat di balik layar. Hilirisasi pertanian skala desa menghadapi setidaknya tiga hambatan klasik.
Pertama, akses permodalan. Bank masih gamang memberikan kredit untuk usaha pengolahan hasil tani karena fluktuasi harga komoditas yang tinggi.
Kedua, teknologi. Alat pengering, mesin penggiling, dan kemasan vakum bukan barang murah.
Ketiga, tata niaga. Begitu produk jadi, ke mana dijual? Pasar modern memiliki standar yang tidak mudah dipenuhi UMKM desa.
Di sinilah peran koordinasi seperti yang dilakukan di Tanjung Mas Makmur menjadi penting. Bukan hanya soal pertemuan, tetapi tindak lanjut.
Apakah ada skema kredit lunak dari Perindag? Apakah ada pelatihan pengemasan dan sertifikasi halal? Apakah ada perjanjian kerja sama dengan ritel modern untuk menyerap produk desa?
Menuju Desa Maju Bukan Sekadar Slogan
Ketika malam itu kami meninggalkan Mesuji, ada secercah keyakinan: perubahan tidak harus selalu dimulai dari pusat kota yang gemerlap.
Dengan langkah-langkah kecil yang terkoordinasi, desa-desa di Lampung bisa bangkit. Bukan dengan bergantung pada bantuan, tetapi dengan mengolah apa yang ditanam di tanah sendiri.
Kabupaten Mesuji dengan segala potensi agrarisnya bisa menjadi model. Desa Tanjung Mas Makmur, yang bersedia menjadi lokasi pertama koordinasi ini, pantas diapresiasi.
Sebab, keberanian untuk berubah selalu dimulai dari kerendahan hati untuk duduk bersama, mendengarkan, lalu bertindak.
Sebagaimana ditulis E.F. Schumacher dalam Small Is Beautiful: “Kemiskinan massa dapat diberantas bukan dengan distribusi, tetapi dengan produksi lokal yang berkelanjutan.” Hilirisasi pertanian adalah produksi lokal itu. Dan DesaKu Maju adalah wadahnya.
Baca juga:
* Musrenbang Lampung 2026: Pertanian Jadi Andalan, Kesejahteraan Petani Jadi Tantangan
Dari desa-desa di Lampung, dari tanah yang dibasuh keringat para petani dan UMKM, mari kita wujudkan kemajuan yang sungguhan.
Bukan janji di atas kertas, tetapi beras yang digiling sendiri, keripik yang dikemas sendiri, dan kesejahteraan yang dinikmati sendiri.
*Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan.
#DesaKuMaju #HilirisasiPertanian #LampungMaju #EkonomiDesa #RahmatMirzaniDjausal



