PGEO Mulai Proyek PLTP Lumut Balai Unit 4, Perkuat Stabilitas Listrik Hijau Sumatera Selatan–Lampung

Pertamina Geothermal Energy PGEO Proyek PLTP Lumut Balai Unit 4 Listrik Hijau Sumatera Selatan Lampung
Pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 4 di Sumatera Selatan akan menambah pasokan listrik hijau sekaligus memperkuat stabilitas sistem kelistrikan hingga Lampung. (Foto ilustrasi)

Pengembangan energi panas bumi kembali bergerak. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi memulai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 megawatt (MW).

Selain berperan menambah pasokan listrik nasional, langkah ini juga memperkuat keandalan sistem kelistrikan di wilayah Sumatera bagian selatan.

Read More

Bagi wilayah seperti Lampung, proyek ini punya arti lebih dari sekadar angka kapasitas. Tambahan daya dari Lumut Balai akan ikut memperkuat stabilitas tegangan dalam jaringan interkoneksi Sumatera, yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi listrik lintas provinsi.

Dalam sistem ini, listrik tidak disalurkan berdasarkan wilayah administratif. Pembangkit seperti PLTP Lumut Balai dan PLTP Ulubelu terhubung dalam satu jaringan besar, sehingga daya yang dihasilkan akan mengalir mengikuti kebutuhan beban terdekat dalam sistem.

Artinya, ketika tambahan 55 MW dari Lumut Balai Unit 4 masuk ke jaringan, dampaknya juga akan dirasakan di wilayah lain dalam sistem yang sama, termasuk Lampung.

Kondisi ini penting, mengingat posisi Lampung yang berada di ujung jaringan transmisi Sumatera kerap menghadapi tantangan penurunan tegangan saat beban meningkat.

Tidak Besar Secara Kapasitas, Tapi Strategis bagi Sistem

Secara kapasitas, tambahan 55 MW memang tidak tergolong besar jika dibandingkan pembangkit utama seperti PLTU Tarahan yang memiliki kapasitas sekitar 200 MW.

Namun dalam sistem kelistrikan, ukuran bukan satu-satunya faktor penentu.

Tambahan daya dalam skala puluhan megawatt justru sering menjadi penentu dalam menjaga keseimbangan sistem, terutama untuk menutup defisit kecil yang dapat memicu penurunan tegangan atau gangguan pasokan.

Selain itu, lokasi pembangkit juga berperan penting. Kehadiran sumber listrik baru di wilayah Sumatera Selatan membuat distribusi daya menjadi lebih merata dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari wilayah Sumatera bagian tengah atau utara.

Dengan kata lain, tambahan 55 MW dari Lumut Balai Unit 4 mungkin hanya sekitar seperempat dari kapasitas PLTU Tarahan.

Tetapi kontribusinya terhadap stabilitas sistem bisa jauh lebih signifikan, terutama bagi wilayah ujung jaringan seperti Lampung.

Baca juga:
* Ulubelu Jadi Pionir Hidrogen Hijau, Dari Tulang Punggung Energi Lampung ke Tonggak Transisi Nasional

Perkuat Klaster Energi Panas Bumi Sumatera Selatan–Lampung

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa proyek Lumut Balai Unit 4 merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memperkuat portofolio energi bersih nasional.

“Proyek ini tidak hanya menambah kapasitas terpasang, tetapi juga memastikan keberlanjutan pasokan energi bersih sekaligus mendukung target bauran energi nasional dan net zero emissions,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Pengembangan ini juga mempertegas posisi Sumatera bagian selatan sebagai salah satu klaster penting energi panas bumi di Indonesia.

Di Lampung, kontribusi panas bumi sudah lebih dulu terlihat melalui operasi PLTP Ulubelu yang menjadi salah satu penopang utama sistem kelistrikan regional.

Tahap Awal: Pengeboran dan Uji Produksi

Pada tahap awal, PGEO mengalokasikan investasi sekitar US$32,21 juta untuk pengeboran tiga sumur eksplorasi. Proses ini akan dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur, uji produksi, hingga konfirmasi sumber daya.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, menyebut lokasi pengeboran berada di zona prospektif dengan karakteristik geologi yang mendukung.

“Area ini berada di sekitar zona upflow utama dengan permeabilitas tinggi. Data geosains menunjukkan cadangan yang ada mampu mendukung tambahan kapasitas 55 MW,” jelasnya.

Didukung RUPTL dan Kebutuhan Listrik yang Terus Tumbuh

Secara komersial, proyek Lumut Balai Unit 4 telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dan didukung kontrak jual beli listrik (PPA) dengan skema eskalasi harga.

Pertumbuhan kebutuhan listrik di Sumatera Selatan yang diproyeksikan mencapai sekitar 6% per tahun juga menjadi faktor pendorong utama.

Dengan tren tersebut, kehadiran pembangkit baru menjadi krusial untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

PGEO menargetkan proyek ini dapat beroperasi penuh (Commercial Operation Date/COD) pada 2032. Bersama rencana pengoperasian Unit 3 pada 2030, total kapasitas di kawasan Lumut Balai diproyeksikan mencapai 220 MW.

Baca juga:
* PLTP Ulubelu: Lampung Mulai Serius Garap Energi Panas Bumi

Sinyal Positif bagi Ketahanan Energi Regional

Lebih dari sekadar proyek pembangkit, pengembangan Lumut Balai Unit 4 menjadi sinyal bahwa penguatan energi bersih tidak lagi terpusat di satu wilayah, melainkan dibangun sebagai sistem yang saling terhubung.

Bagi Lampung, kondisi ini memberi manfaat tidak langsung namun signifikan: sistem kelistrikan yang lebih stabil, cadangan daya yang lebih kuat, serta ketergantungan yang semakin kecil terhadap pasokan listrik jarak jauh.

Dengan semakin banyaknya pembangkit berbasis energi terbarukan di Sumatera bagian selatan, fondasi menuju sistem energi yang lebih andal dan berkelanjutan pun semakin kokoh.

---

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *