Lampung hari ini bukan sekadar pelintasan. Provinsi ini tengah bertransformasi menjadi “dapur” raksasa bagi industri nasional. Dalam kurun 2024–2025, gairah pembangunan kawasan industri di Tanah Lada ini tak lagi sekadar wacana di atas kertas kerja birokrat.
Perluasan Kawasan Industri Tanjung Bintang sebesar 1.000 hektare dan akselerasi Kawasan Industri Maritim Tanggamus adalah sinyal kuat: Lampung siap naik kelas.
Tapi, seperti yang pernah dikatakan ekonom Paul Rosenstein-Rodan lewat teori Big Push-nya, pembangunan industri tidak bisa dilakukan secara eceran. Butuh dorongan investasi besar-besaran yang terintegrasi supaya tercipta efek pengganda.
Pertanyaannya kemudian: mampukah deretan kawasan industri ini benar-benar jadi mesin kesejahteraan bagi warga lokal? Atau malah cuma jadi “pulau-pulau kemakmuran” di tengah laut kemiskinan?
PR Besar Pemprov dan Pemkab
Supaya perkembangan 2024–2025 ini nggak mengecewakan, sinergi antara Pemprov dan Pemkab itu mutlak. Ada tiga hal yang harus dikerjakan serius:
Pertama, hilirisasi berbasis komoditas lokal. Pemerintah daerah jangan cuma puas jadi penyedia lahan. Industri yang masuk harus didorong kalau perlu dipaksa untuk melakukan hilirisasi.
Kopi, kakao, dan kelapa sawit Lampung harus keluar dari kawasan industri dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi, bukan lagi komoditas mentah yang nilainya rendah.
Kedua, link and match SDM. Kawasan industri butuh teknisi, bukan sekadar penjaga keamanan. Pemda harus merevisi kurikulum SMK dan Balai Latihan Kerja supaya relevan dengan kebutuhan spesifik di KI Katibung atau Way Laga. Percuma punya kawasan industri kalau tenaga kerjanya harus didatangkan dari luar daerah.
Ketiga, kepastian hukum dan infrastruktur pendukung. Masalah klasik seperti sengketa lahan dan buruknya akses jalan non-tol masih jadi ganjalan. Seorang pakar ekonomi pernah bilang, “Investasi akan datang kalau ada rasa aman.” Pemda wajib memangkas birokrasi perizinan yang masih berbelit di tingkat kabupaten.
Baca juga:
* Hilirisasi Kakao di Bulok Tanggamus: Dari Biji Mentah ke Cokelat Premium
Apresiasi untuk Para Pionir
Langkah berani Gubernur Lampung dan para Bupati yang gigih melobi pusat untuk menjadikan Lampung sebagai Proyek Strategis Nasional layak diacungi jempol.
Apresiasi juga pantas diberikan kepada para investor lokal dan BUMD seperti PT KILA yang tetap bertahan meski dihantam ketidakpastian ekonomi global. Mereka adalah motor yang menjaga detak jantung ekonomi Lampung tetap berdenyut.
Keberadaan kawasan industri memang kunci. Kalau dikelola dengan nurani dan visi jauh ke depan, Lampung bukan mustahil akan jadi mercusuar industri di Sumatera.
Ekonom Simon Kuznets pernah mengingatkan: pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan hanya menunggu waktu untuk runtuh.
Mari kita pastikan pabrik-pabrik yang berdiri itu juga mengisi piring nasi masyarakat Lampung, bukan cuma kantong segelintir orang.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
‘#IndustriLampung #PembangunanSumatera #EkonomiHilirisasi



