Provinsi Lampung mencatat kenaikan skor Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) dari 3,46 pada 2024 menjadi 3,50 pada 2025. Kenaikan ini menempatkan Lampung tepat di rata-rata nasional, yang juga naik dari 3,43 menjadi 3,50.
Secara angka, ini kabar baik. Namun secara substansi, data menunjukkan bahwa penguatan daya saing Lampung masih bersifat moderat dan belum sepenuhnya menyentuh fondasi ekonomi produktif.
IDSD sendiri disusun berdasarkan 12 pilar yang mengacu pada kerangka Global Competitiveness Index (GCI) 4.0 dari World Economic Forum, dan diadaptasi secara nasional melalui Indeks Daya Saing Daerah.
Pilar-pilar ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling memengaruhi. Karena itu, kenaikan skor total perlu dibaca bersama dinamika tiap pilar.
Pilar-Pilar yang Menguat: Kenaikan yang Bergerak Searah Nasional
Pada 2025, sebagian besar pilar Lampung mengalami peningkatan dan bergerak searah dengan tren nasional. Pilar Institusi naik ke 4,30, sama dengan rata-rata nasional.
Pilar Infrastruktur meningkat dari 3,34 menjadi 3,51, melampaui rata-rata nasional (3,37). Adopsi TIK, Stabilitas Ekonomi Makro, dan Kesehatan juga menunjukkan penguatan.
Khusus stabilitas ekonomi makro, Lampung naik dari 4,15 menjadi 4,26, sementara nasional juga meningkat dari 3,99 menjadi 4,02.
Ini penting ditegaskan untuk menghindari kesan kontras yang keliru: Lampung tidak bergerak berlawanan dengan nasional, melainkan mengalami penguatan dalam arus yang sama, dengan posisi relatif yang lebih baik.
Namun, kenaikan ini masih mencerminkan perbaikan kondisi dasar, bukan lompatan struktural. Stabilitas makro dan institusi yang baik adalah prasyarat, tetapi belum otomatis menghasilkan produktivitas tinggi bila tidak diikuti oleh penguatan di pilar pasar, keterampilan, dan dinamika usaha.
Infrastruktur: Membaik, Tapi Belum Menggerakkan Nilai Tambah
Pilar infrastruktur sering dibaca sebagai indikator kesiapan ekonomi. Secara skor, Lampung memang menunjukkan kemajuan.
Namun, data pilar lain mengisyaratkan bahwa infrastruktur tersebut belum sepenuhnya berfungsi sebagai pengungkit utama bagi industri, pertanian, peternakan, dan aktivitas ekonomi bernilai tambah.
Rendahnya Pasar Produk (2,22) dan Pasar Tenaga Kerja (2,46), meski naik tipis, menunjukkan bahwa arus barang, jasa, dan tenaga kerja belum cukup dinamis.
Infrastruktur yang membaik belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi efisiensi logistik, ekspansi pasar, atau integrasi rantai pasok yang kuat.
Baca juga:
* Menembus Batas Fiskal: Strategi “Survival” Lampung Menuju Indonesia Emas 2045
Pilar Keterampilan (Pilar 6): Turun Bersama Tren Nasional
Salah satu catatan penting ada pada Pilar Keterampilan (Skills). Skor Lampung turun dari 3,91 menjadi 3,65. Namun penurunan ini bukan fenomena lokal semata. Rata-rata nasional juga mengalami koreksi dari 3,91 menjadi 3,67.
Artinya, tantangan keterampilan tenaga kerja bersifat struktural dan nasional: kualitas pendidikan, relevansi kurikulum, dan kesenjangan link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi pekerjaan besar.
Bagi Lampung, dampaknya terasa lebih kuat karena struktur ekonomi yang masih didominasi sektor primer, sementara transformasi ke industri pengolahan dan jasa modern membutuhkan keterampilan yang lebih spesifik.
Dinamika Bisnis (Pilar 11): Penurunan yang Lebih Dalam
Pilar Dinamika Bisnis juga menurun, dari 3,61 menjadi 3,01. Secara nasional, pilar ini turun dari 3,06 menjadi 2,79.
Dengan demikian, pelemahan bukan hanya terjadi di Lampung. Namun, kedalaman penurunan Lampung relatif lebih tajam.
Pilar ini mengukur kecepatan adaptasi usaha, keberanian mengambil risiko, inovasi, dan respons terhadap perubahan pasar.
Penurunan ini memberi sinyal bahwa dunia usaha belum cukup lincah memanfaatkan peluang, meskipun kondisi makro relatif stabil dan infrastruktur membaik.
Hambatan bisa berasal dari perizinan, akses pembiayaan, iklim kompetisi, hingga kapasitas manajerial UMKM.
Ukuran Pasar Besar, Tapi Belum Produktif
Lampung mencatat skor tinggi pada Ukuran Pasar (4,63), bahkan di atas nasional. Ini menunjukkan potensi konsumsi dan posisi geografis yang strategis.
Namun, ukuran pasar yang besar belum otomatis menciptakan daya saing bila tidak diiringi oleh dinamika bisnis dan keterampilan tenaga kerja yang memadai.
Di sinilah terlihat bahwa kenaikan skor IDSD Lampung masih bersifat administratif dan fondasional, belum sepenuhnya bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif berbasis produktivitas.
Baca juga:
* Lampung di Papan Tengah IDSD 2025: Stabil, Tapi Masih Tertahan di Pasar Produk
Naik, Tapi Belum Berlari
Kenaikan skor IDSD Lampung dari 3,46 ke 3,50 adalah kemajuan yang patut dicatat.
Namun, data juga menunjukkan bahwa sebagian besar pergerakan pilar di Lampung berlangsung searah dengan tren nasional, dengan perbedaan terutama pada tingkat dan dampaknya terhadap struktur ekonomi daerah.
Lampung belum tertinggal, tetapi juga belum berlari.
Tantangan ke depan bukan sekadar menjaga stabilitas dan membangun infrastruktur.
Lampung harus memastikan bahwa keterampilan tenaga kerja, dinamika bisnis, dan fungsi pasar benar-benar mampu mengubah potensi menjadi nilai tambah nyata bagi perekonomian daerah.



