Lampung selama ini dikenal luas sebagai “Siger Kopi”. Tapi, di balik aroma khas Robusta yang mendominasi perkebunan, ada komoditas lain yang sebenarnya tak kalah potensial kakao. Sayangnya, komoditas ini masih jarang dilirik warga lokal untuk dikonsumsi sehari-hari.
Sebagai salah satu sentra kakao nasional bersama Sulawesi, Lampung menghadapi paradoks yang cukup ironis: produksinya besar, tapi konsumsi di dalam negeri khususnya di Lampung sendiri masih jauh tertinggal dibanding kopi.
Angka Produksi yang Mengesankan
Merujuk data dari Satu Data Lampung dan berbagai sumber industri, produksi kakao Lampung diperkirakan mencapai sekitar 630.000 ton pada 2025 (dalam skala nasional, dengan Lampung sebagai kontributor utama).
Sebagian besar hasil panen ini langsung mengalir ke pasar ekspor dalam bentuk biji mentah. Negara-negara seperti India, Malaysia, dan Amerika Serikat menjadi tujuan utama kakao hasil kerja keras petani Lampung.
Pertanyaannya sederhana: kenapa masyarakat Lampung sendiri belum se-“kecanduan” cokelat seperti mereka menikmati kopi setiap pagi?
Kalau kita lihat data konsumsi per kapita, perbedaannya cukup mencolok. Konsumsi kopi per kapita di Indonesia sudah mencapai sekitar 0,8 hingga 1,3 kg per tahun.
Sementara itu, konsumsi produk olahan kakao masih jauh di bawahnya. Kakao masih dipandang sebagai camilan atau makanan “spesial”, bukan bagian dari rutinitas harian seperti ngopi.
Akar Masalah: Kurangnya Literasi Konsumen
Rendahnya konsumsi domestik ini sebenarnya berawal dari satu hal mendasar: literasi.
Selama bertahun-tahun, kita sudah dibombardir dengan informasi tentang kopi mulai dari manfaatnya sebagai penambah energi hingga tren gaya hidup anak muda.
Sementara kakao? Masih terjebak dalam stigma “manis, bikin gemuk, dan nggak sehat.”
Padahal, kalau bicara soal kakao murni, ceritanya beda. Cokelat hitam atau dark chocolate yang minim gula justru termasuk superfood.
Beberapa ahli kesehatan sudah sering mengingatkan bahwa kakao murni kaya akan antioksidan flavonoid.
Senyawa ini bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah penyakit jantung.
Belum lagi kandungan theobromine-nya yang bisa memperbaiki suasana hati tanpa bikin ketergantungan seperti kafein.
Tapi, informasi seperti ini belum sampai ke masyarakat luas.
Yang mereka tahu cuma cokelat batang kemasan yang manis banget bukan cokelat sehat dengan kandungan kakao tinggi dan gula rendah.
Baca juga:
* Sekolah Kakao: Jalan Lampung Sejahterakan Petani dan Perkuat Ketahanan Pangan
Solusi: Menuju Kedaulatan Cokelat Lampung
Supaya kakao tidak cuma jadi komoditas ekspor yang untungnya tipis buat petani, perlu ada langkah strategis dari berbagai pihak:
A. Pertama, dorong hilirisasi di tingkat mikro. Pemerintah daerah harus memfasilitasi lahirnya UMKM pengolahan cokelat lokal di sentra-sentra produksi seperti Pesawaran dan Lampung Selatan.
Jangan biarkan petani cuma jual biji mentah terus. Kasih mereka pelatihan dan alat untuk bikin bubuk kakao, pasta, atau bahkan cokelat batang sendiri.
B. Kedua, bangun kampanye “Cokelat Lampung”. Dinas Perdagangan dan Perindustrian bisa meniru strategi industri kopi dalam membangun citra produk.
Kalau kopi punya coffee shop di mana-mana, kenapa kakao nggak punya cocoa bar yang menyajikan minuman cokelat murni sebagai pilihan sehat?
C. Ketiga, integrasikan dengan pariwisata. Lampung punya potensi besar untuk wisata edukasi kakao. Ajak wisatawan lokal maupun luar untuk melihat langsung proses dari panen sampai jadi produk siap konsumsi.
Ini cara paling efektif untuk meningkatkan literasi sekaligus membangun emotional connection dengan produk lokal.
D. Keempat, keberpihakan lewat kebijakan. Pemerintah perlu memberikan insentif pajak atau kemudahan lain bagi industri pengolahan kakao domestik.
Tujuannya biar harga produk cokelat lokal bisa lebih kompetitif dibanding produk impor yang kadang malah lebih murah.
Baca juga:
* Re-Fermentasi Kakao: Terobosan Polinela untuk Pasokan Ber-SNI ke Pasar Global
Saatnya Beralih: Dari Secangkir Kopi ke Secangkir Cokelat
Lampung punya modal besar untuk jadi pusat kakao nasional. Tapi tanpa peningkatan literasi dan keberanian mengubah budaya konsumsi, manisnya cokelat Lampung cuma akan dinikmati lidah orang asing.
Sementara petani kita? Cuma dapat ampas dari fluktuasi harga global.
Sudah waktunya kita tidak cuma menyeduh kopi, tapi juga mulai mencicipi kedaulatan dalam secangkir cokelat.
*Penulis: Mahendra Utama, Pemerhati Pembangunan
#KakaoLampung #CokelatLampung #EkonomiDaerah #ProdukLokal #HilirisasiKakao



